Asal Mula Makam Imogiri

 

Alamat
Ds Girirejo Kel.Girirejo IMOGIRI BANTUL

-7.910594,110.417381

 

Makam Imogiri merupakan kompleks makam Raja-Raja Mataram Islam beserta keturunannya, yakni Raja-raja yang bertahta di Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Kompleks Makam Imogoro terletak di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul dan dibangun pada tahun 1632 oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo. Konon, Sultan Agung sudah mempersiapkan makam tersebut sebelum dirinya wafat. Di kerajaan Mataram Islam, tersebutlah raja bernama Sultan Agung Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan nama Sultan Agung. Ia merupakan raja ke-3 Krajaan Mataram islam yang terkenal arif dan bijaksana. Di bawah kepemimpinannya, rakyat Mataram senantiasa hidup aman, tenteram, dan makmur. Itulah sebabnya, ia sangat dicintai dan dihormati rakyatnya. Selain kharismatik, Sultan Agung memiliki kesaktian yang tinggi. Konon, ia mampu ke Mekah secara gaib untuk Sholat Jumat di sana. Karena seringnya ke Mekah, Sultan Agung kenal baik dengan beberapa ulama di sana, baik ulama Arab maupun ulama dari Indonesia yang sedang berada di Mekah. Dari perkenalan itu, mereka pun kemudian menjalin persahabatan dan Sultan Agung sering diajak oleh para sahabatnya untuk berkeliling kota Mekah dan sekitarnya. Suatu waktu, ketika sedang berjalan-jalan bersama seorang ulama, Sultan Agung sampai pada suatu tempat yang tanahnya berbau harum. Ia amat tertarik pada tempat itu. Maka, timbullah keinginannya apabila suatu saat meninggal, jasadnya agar dimakamkan di tempat itu. Niat itu kemudian ia sampaikan kepada sahabatnya, namun ulama itu melarangnya dengan alasan rakyat Mataram akan kesulitan apabila untuk mengunjungi makam Sultan. Nasehat ulama itu memang masuk akal, namun Sultan Agung tetap bersikeras ingin dimakamkan di tempat tersebut. Melihat sikap Raja Mataram itu, sang ulama pun mengambil segenggam tanah yang harum itu untuk dibawa ke Mataram. Ulama itu berpesan agar melemparkan tanah ini ke selatan. Niscaya tempat jatuhnya tanah itu juga akan menjadi harum dan di tempat itulah Sultan akan dimakamkan. Sultan Agung pun menerima tanah itu dengan senang hati. Sekembalinya dari Mekah, ia mengambil separuh tanah itu lalu dilemparkan ke selatan. Tanah itu jatuh di Bukit Giriloyo, di daerah Bantul. Sultan Agung kemudian memerintahkan abdi dalem untuk membuat makam yang dipersiapkan untuk dirinya. Sultan Agung mengerahkan abdi dalem istana untuk membangun makam tersebut. Rupanya, pembangunan makam itu bukan sekedar menggali lubang, melainkan sebuah kompleks. Itulah sebabnya, pembangunan makam tersebut melibatkan ribuan orang. Untuk mengangkut batu bata dari kraton yang terletak di daerah Pleret ke Bukit Giriloyo, para abdi dalem merantingnya satu per satu dengan cara duduk bersila agar tidak rusak. Paman Sultan Agung, Gusti Pangeran Juminah, ikut membantu mengawasi jalannya pembangunan makam. Namun, saat itu ia jatuh sakit. Bersamaan dengan pembangunan itu selesai, ia pun meninggal dunia. Maka, sang Paman dimakamkan di kompleks makam yang baru selesai dibangun itu. Oleh karena makam tersebut sudah digunakan untuk pamannya, Sultan Agung tidak ingin dimakamkan di tempat itu karena dianggap terlalu sempit untuk beliau dan keluarganya kelak. Setelah pemakaman pamannya selesai, Sultan Agung kembali ke istana. Ia segera mengambil sisa tanah yang berbau harum dari Mekah itu lalu dilemparkannya ke arah selatan. Tanah itu jatuh di Bukit Merak yang masuk wilayah Desa Pajimatan, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogoro Bantul. Itulah sebabnya, Makam Imogiri juga dikenal dengan Makam Pajimatan. Sultan Agung pun kembali memerintahkan para abdi dalem untuk membangun makam yang baru di tempat itu. Ia menginginkan agar makam itu dibangun menjadi beberapa bagian karena makam itu bukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya. Maka dibangunlah sebuah makam pada bagian tengah paling atas Bukit Merak. Makam itu kelak akan menjadi makam Sultan Agung. Kemudian, di sekitar makam itu, dibangun pula beberapa makam yang akan digunakan oleh keluarga Sang Sultan. Singkat cerita, Sultan Agung wafat pada tahun 1645. Ia pun dimakamkan di tempat itu yang kemudian menjadi induk makam, dan disebut Kasultanagungan. Setelah itu, makam tersebut kemudian menjadi pemakaman seluruh keluarga Sang Sultan dan Raja-Raja Mataram setelahnya. Makam Imogiri ini menjadi kompleks makam yang luasnya mencapai 10 hektar. Di Kompleks inilah sebagian besar raja-raja matar Islam hingga pemerintahan Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dimakamkan. Setelah perjanjian Giyanti tahun 1755, Kompleks Makam ini pun dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian sebelah barat digunakan sebagai makam Raja-raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sedangkan bagian sebelah timur digunakan untuk makam Raja-raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Galeri Foto

Of makam raja imogiri

 

Of makam raja imogiri3

 

Of makam raja imogiri4

 

sebagai Asal Mula Makam Imogiri dalam cabang Cerita Rakyat