Begawan Selohening

 

Alamat
Ds Parangtritis Kel.Parangtritis KRETEK BANTUL

Lokasi simpan
-8,002906

-8.002906,110.333031

 

\"Di Pantai Selatan wilayah Yogyakarta, terdapat sebuah desa dengan nama Desa Pamancingan. Di desa tersebut tinggallah seorang pertapa terkenal, bernama Begawan Selapawening. Nama Selapawening itu mungkin bukan nama sebenarnya, melainkan hanya nama samaran, untuk menutup kenyataan bahwa ia sebenarnya adalah putra raja Majapahit. Menurut cerita rakyat yang hidup di kalangan masyarakat, Begawan Selapawening mula-mula berasal dari Kerajaan Majapahit. Ia dipercaya merupakan salah satu adalah putra raja Majapahit, Prabu Brawijaya terakhir. Penyebab kepergian Begawan Selapawening dari kerajaan Majapahit (wilayah Jawa Timur) sampai ke pesisir selatan (wilayah Yogyakarta) menurut cerita terkait dengan meluasnya pengaruh Islam di Majapahit sehingga mereka yang tidak mau melepaskan agama yang telah mereka anut merasa terdesak, lalu mereka menyingkir dari tempat tinggal mereka semula, dan melarikan diri ke daerah yang dianggap aman dan bebas. Di daerah tersebut Begawan Selapawening beserta para pengikutnya itu menetap dan mendirikan padepokan, untuk menyiarkan ajaran agama yang dianut sejak dari tempat tinggalnya yang dahulu. Daerah tersebut dikenal sebagai desa yang sangat \"\"angker” dan tidak sembarang orang berani datang ke desa tersebut. Pada suatu ketika, datanglah Syekh Maulana Mahgribi ke padepokan Begawan Selapawening, dengan maksud akan menyebarluaskan ajaran agama Islam di sana. Agar supaya usahanya berhasil tanpa hambatan sedikitpun, maka syekh Maulana Mahgribi bukannya langsung menyebarkan ajaran agama kepada para penduduk biasa di wilayah desa itu, melainkan lebih dahulu menemui penguasa atau orang yang berpengaruh di desa itu. Kalau sudah mendapat ijin dari orang yang berpengaruh, niscaya akan amanlah setiap langkahnya dalam usaha menyebarkan agama Islam itu di sana. Maka Syekh Maulana Mahgribi menemui Begawan Selapawening di padepokannya, sebab tahu betapa besar pengaruh Begawan Selapawening terhadap masyarakat di sekitarnya. Kepada Begawan Selapawening, Syekh Maulana Mahgribi mengutarakan maksudnya akan menyiarkan ajaran agama Islam di wilayah itu. Secara terus-terang Syekh Maulana Mahgribi mengharapkan kesediaan Begawan Selapawening melepaskan agama yang kini dianutnya dan menerima ajaran lslam. Atau setidak-tidaknya bersedia memberikan keleluasaan kepada para anak buah dan pengikutnya memeluk agama Islam. Begawan Selapawening menyanggupi maksud Syekh Maulana Mahgribi dengan syarat Syekh Maulana Mahgribi mampu menandingi kesaktian Begawan Selapawening, sehingga diadakan pertandingan adu kesaktian. Salah satu pertandingan, ialah \"\"dhelikan\"\" (sembunyi). Begawan Selapawening bersembunyi lebih dahulu, dengan mengerahkan kesaktiannya, sampai ibarat seribu pasang mata tak akan dapat melihatnya. Tetapi ternyata Syekh Maulana Mahgribi masih berhasil menemukan Begawan Selapawening di tempat persembunyiannya. Sebaliknya pada waktu Syekh Maulana Mahgibi bersembunyi, Begawan Selapawening tidak mampu menemukannya, meskipun telah mengerahkan segenap kemampuan atau kesaktiannya. Pertandingan selanjutnya ialah pertandingan memancing. Begawan Selapawening diberi kesempatan lebih dahulu menunjukkan kemahirannya atau kesaktiannya dalam bidang memancing. Dengan tenang dan dengan gaya yang mantap Begawan Selapawening melemparkan mata pancingnya ke dalam air. Dalam waktu singkat ditariknya pancing itu dan seekor ikan yang sangat besar tersangkut di mata kailnya. Semua orang yang hadir takjub menyaksikan peristiwa itu. Mereka semua mengakui bahwa Begawan Selapawening adalah orang yang sakti. Sampailah akhirnya giliran Syekh Maulana Mahgribi menunjukkan kesaktiannya memancing. Orang-orang yang menyaksikan menantikannya dengan tegang, apakah kail Syekh Maulana Mahgribi mendapatkan ikan yang lebih besar dari pada yang didapatkan oleh Begawan Selapawening.Pada waktu Syekh Maulana Mahgribi melemparkan mata pancingnya ke dalam air dan menariknya sebentar kemudian, sesuatu benda turut terkait pada mata pancing dan tergeletak di samping Syekh Maulana Mahgribi. Benda itu tidak lain ialah ikan besar yang telah dibakar dengan bau yang sedap. Rasa kagum yang luar biasa besarnya terbayang pada wajah setiap orang yang menyaksikan peristiwa itu, termasuk Begawan Selapawening. Pada akhirnya Begawan Selapawening menyadari dan mengakui bahwa kesaktian Syekh Maulana Mahgribi melebihi kesaktian yang dimilikinya. Begawan Selapawening lalu menyerah kalah. Penguasaan atas padepokan itu lalu diserahkannya kepada Syekh Maulana Mahgribi sedangkan Begawan Selapawening sendiri lalu pindah ke tempat lain, yang letaknya lebih rendah dari pada padepokannya semula (puncak Bukit Sentana). Oleh Syekh Maulana Mahgribi bekas padepokan Begawan Selapawening itu lalu dijadikannya pondok pesantren, tempat untuk menampung mereka yang akan memperdalam ajaran agama lslam. Kecuali ajaran agama Islam di dalam pondok itu juga diajarkan \"\"ilmu kanuragan\"\". Tempat untuk adu kesaktian memancing itu kemudian dikenal dengan nama Desa Pamancingan. Walesan Syekh Maulana Mahgribi yang dipergunakan untuk memancing waktu diadakan pertandingan dengan Begawan Selapawening, lalu ditancapkan di kebun di belakang padepokan. Walesan yang terbuat dari bilah bambu itu, lalu tumbuh menjadi rumpun bambu yang rimbun dan dikenal dengan \"\"bambu Sentana\"\", atau \"\"bambu Pamancingan\"\". Menurut kepercayaan, bambu Sentana atau bambu Pamancingan itu keramat, terbukti pada masa clash kedua, dapat dipergunakan untuk mengusir pasukan Belanda. Di dalam pondok pesantren, Syekh Maulana Mahgribi membuat pancuran air, untuk mandi dan wudu para santri. Pancuran air yang dibuat oleh Syekh Maulana Mahgribi itu, sampai sekarang masih ada, dikenal dengan nama Segara Muncar. Dengan adanya pondok pesantren di Bukit Sentana itu, maka dengan pesatnya agama Islam tersiar ke tempat-tempat di sekitarnya.\"

Galeri Foto

Begawan solohening

 

sebagai Begawan Selohening dalam cabang Cerita Rakyat