Syekh Belabelu

 

Alamat
Ds Parangtritis Kel.Parangtritis KRETEK BANTUL

Lokasi simpan
-8,006375

-8.006375,110.317704

 

Dahulu kala, menurut cerita, di puncak Bukit Sentana dan Bukit Pamancingan (termasuk Parangtritis) terdapat bangunan rumah untuk pondok yang tinggal di Pondok Pamancingan ialah Syekh Belabelu, sedang yang tinggal di pondok Bukit Sentana ialah Syekh Maulana Mahgribi. Kedatangan Syekh Belabelu di bukit Pamancingan itu jauh lebih dahulu dari pada kedatangan Syekh Maulana Mahgribi di Bukit Sentana. Syekh Belabelu mula-mula bernama Raden Jaka Bandem. Dia adalah putra raja Majapahit, Prabu Brawijaya terakhir. Dengan berdirinya kerajaan Islam di Jawa Tengah dibawah pemerintahan Raden Patah, maka kekuasaan dan pengaruh kerajaan Majapahit menjadi terdesak. Wilayah kekuasaannya makin lama makin menjadi sempit, dan agama Budha yang dahulu merupakan agama yang dianut oleh hampir seluruh rakyat, menjadi terdesak pula, oleh datangnya pengaruh ajaran agama Islam. Kekuasaan kerajaan Majapahit runtuh, kerabat dan keluarga keraton Majapahit, yang masih hidup, lalu meninggalkan keraton untuk menyelamatkan diri. Raden Jaka Bandem, salah seorang dari putra Prabu Brawijaya terakhir, beserta para pengikutnya sempat lolos dari keraton. Dengan maksud akan menyelamatkan diri, maka dicarilah tempat yang diperkirakan tidak mungkin terjangkau oleh pengaruh kekuasaan kerajaan di bawah pimpinan Raden Patah. Lalu ditempuhnyalah perjalanan menyusuri pantai selatan menuju ke arah barat, sehingga akhirnya ketika sampai di suatu tempat, yang ternyata dikenal dengan nama Parangtritis, Raden Jaka Bandem lalu mengakhiri pengembaraannya. Raden Jaka Bandem beserta para pengiringnya menetap di daerah itu. Mereka lalu mendirikan padepokan, di puncak bukit Pamancingan, dan Raden Jaka Bandemlah yang menjadi sesepuhnya. Setelah berlangsung lama Raden Jaka Bandem menetap di padepokan yang terletak di puncak Bukit Pamancingan, datanglah Syekh Maulana Mahgribi di wilayah pantai selatan. Syekh Maulana Mahgribi adalah seorang penyiar agama Islam yang diperintahkan oleh Raden Patah untuk menyebarkan ajaran agama Islam di wilayah ini. Di dalam pemerintahan kerajaannya, Raden Patah memiliki banyak sekali penyiar agama Islam. Syekh Maulana Mahgribi adalah salah seorang dari para penyiar agama di kerajaan Raden Patah. Setelah menyaksikan keindahan alam di pantai Parangtritis itu, tertariklah beliau untuk menetap di sana. Lebih-lebih lagi setelah diteliti lebih lanjut, ternyata puncak Bukit Sentana itu sangat sesuai untuk mendirikan pondok. Bersama-sama dengan para pengikutnya, mulailah Syekh Maulana Mahgribi mengerjakan pembangunan pondok di puncak Bukit Sentana itu. Setelah pondok itu selesai dibangun, mulailah beliau mengumpulkan orang-orang ke dalam pondok barunya. Kepada orang-orang yang berkumpul di pondoknya itu, mulailah Svekh Maulana Mahgribi menyiarkan ajaran agama Islam. Banyaklah orang tertarik ajarannya itu lalu memeluk agama lslam. Bahkan Raden Jaka Bandem yang sementara itu menjadi sesepuh di Padepokan Bukit Pamancingan, merasa terpikat pula oleh ajaran agama yang disiarkan oleh Syekh Maulana Mahgribi. Setelah mempertimbangkan masak-masak, pada akhirnya dengan kebulatan hati Raden Jaka Bandem lalu masuk Islam. Dengan masuknya Raden Jaka Bandem ke agama lslam, maka seluruh anak buah, pengikut dan murid yang menuntut ilmu di padepokan Bukit Pamancingan itu, secara serempak lalu bersama-sama menerima ajaran Islam dan memeluk agama Islam. Menurut cerita, Syekh Belabelu memiliki kegemaran makan sehingga tubuhnya menjadi gemuk sekali. Kerak nasi hasil sisa masakan yang dilakukan bertahun-tahun sehingga terkumpul banyak sekali dan dijajarkan pada atap rumahnya dan pada dinding pondoknya. Sejak masih muda, Raden Jaka Bandem yang sekarang telah berganti nama menjadi Syekh Belabelu, juga memiliki kegemaran atau kebiasaan tirakat atau bertapa. Cara Syekh Belabelu bertapa sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh orang pada umumnya atau atau yang diajarkan oleh Syekh Maulana Mahgribi. Di dalam pelaksanaan tapanya ternyata Syekh Belabelu seakan-akan hanya mementingkan kepuasan dirinya pada soal makan, tidak menjauhkan diri dari kenikmatan, setidak-tidaknya mengurangi segala macam kesenangan duniawi, misalnya makan dan tidur. Mendengar hal tersebut, maka Syekh Maulana menegurnya. Tetapi Syekh Belabelu tetap mempertahankan bahwa cara bertapanya juga akan dapat mencapai tujuan. Syekh Belabelu kemudian merasa tidak puas dan ingin membuktikan hasil dari masing-masing cara bertapa, mana yang lebih baik dengan mengadu kecepatan ke Masjid Mekkah. Setelah itu, mulailah mereka berdua menjalankan tapa atau tirakat dengan cara mereka masing-masing. Pada hari yang telah ditentukan, Syekh Maulana datang ke pondok syekh Belabelu. Sesampai di sana ternyata Syekh Belabelu masih sibuk menanak nasi, sama sekali tidak nampak adanya persiapan akan bepergian jauh. Syekh Belabelu mempersilahkan Syekh Maulana Mahgribi untuk berangkat terlebih dahulu.  Dengan demikian, berangkatlah Syekh Maulana Mahgribi menuju ke Masjid Mekkah. Sedangkan Syekh Belabelu dengan santainya menunggu nasi yang ditanaknya. Sesampai di Masjid Mekkah, Syekh Maulana Mahgribi melihat telah banyak orang yang datang untuk bersembahyang Jum\'at. Begitu masuk ruang masjid Syekh Maulana Mahgribi menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari tempat duduk yang nyaman. Tiba-tiba Syekh Maulana Mahgribi menjadi terkejut dan heran setelah dilihatnya Syekh Belabelu ternyata telah duduk bersila di dalam ruangan masjid itu, di tempat yang tidak jauh dari tempat dia berdiri. Dengan tenangnya Syekh Belabelu tersenyum, melambaikan tangan dan memberi isyarat agar Syekh Maulana Mahgribi duduk disampingnya. Dengan demikian maka Syekh Maulana Mahgribi mengakui keunggulan Syekh Belabelu melebihi dirinya.

Galeri Foto

Syech belabelu

 

Syech belabelu1

 

Syech belabelu2

 

Syech belabelu4

 

sebagai Syekh Belabelu dalam cabang Cerita Rakyat