Ki Mangir Wanabaya

 

Alamat
Ds Sendangsari Kel.Sendangsari PAJANGAN BANTUL

-7.895223,110.291104

 

Panembahan Senopati berkeinginan menguasai wilayah Mataram dan sekitarnya, namun belum berhasil karena ada beberapa penguasa wilayah yang tidak mau tunduk, salah satunya adalah Ki Ageng Mangir Wanabaya yang berkuasa di wilayah Mangir. Selama memimpin daerah Mangir, Ki Ageng Mangir Wanabaya merasa berhak untuk tidak tunduk kepada Mataram karena merupakan daerah “perdikan”. Kesaktian Ki Ageng Mangir sangat terkenal dengan senjata tombaknya yang  bernama Kyai Baru Klinting. Rencana yang diusulkan oleh Ki Juru Martani adalah dengan menggunakan siasat apus karma atau tipu daya halus. Ki Ageng Mangir terkenal sangat menyukai pertunjukan tarian ledhek, sehingga diusulkan agar Putri Pambayun, anak baginda diutus ke Mangir dengan menyamar sebagai penari. Apabila terpikat pada kecantikan sang putri, Ki Ageng Mangir tentu akan menikahinya. Dengan begitu, penguasa Mangir itu sudah pasti menjadi menantu baginda dan niscaya akan menghadap dan menghormati Mataram. Panembahan Senopati segera membujuk Sekar Pambayun. Sang putri pun tak kuasa menolak perintah ayahandanya itu. Sebelum berangkat ke Mangir, Panembahan Senopati membentuk kelompok musik ledhek yang terdiri dari para punggawa terkemuka Mataram. Adipati Martalaya ditunjuk sebagai dalang sekaligus pemimpin kelompok dengan nama samaran Dalang Sandiguna. Ki Jayasupanta ditunjuk sebagai penabuh gamelan dengan gelar Ki Sandisasmita, dan Ki Suradipa sebagai penabuh gendang. Sementara itu Sekar Pembayun berperan sebagai penari yang bernama waranggana sekaligus sebagai anak Ki Dalang, ia dikawal oleh bupati wanita bernama Nyai Adirasa. Setelah tekun berlatih, grup ledhek itu pun berangkat ke Mangir dengan membawa peralatan berupa gamelan dan wayang. Selama dalam perjalanan, Sekar Pembayun bersama rombongannya mengadakan pertunjukan di desa-desa yang dilewati sehingga mereka menjadi terkenal. Suatu hari, rombongan ledhek itu akhirnya tiba di Mangir. Kebetulan, di desa saat itu sedang diadakan acara merti dusun atau bersih desa, yaitu pesta rakyat untuk mensyukuri atas hasil panen. Melihat kedatangan grup ledhek itu, Ki Ageng Mangir Wanabaya segera menyambutnya dengan suka cita. Ia kemudian meminta kepada dalang Sandiguna untuk menggelar pertunjukan ledhek di halaman rumahnya. Ki Ageng Mangir terlihat gembira menyaksikan tarian, apalagi melihat gerak gerik Sekar Pembayun yang lemah lembut dan suaranya merdu. Selama ini, belum ada seorang wanita pun yang memikat hatinya. Namun ketika melihat kecantikan Sekar Pembayun, ia benar-benar terpesona. Ia pun berniat untuk meminangnya. Usai pertunjukan, penguasa Mangir itu pun menyampaikan niatnya kepada Ki Dalang Sandiguna. Ki Dalang Sandiguna tidak perlu berpikir panjang untuk merestui pernikahan mereka. Sebab, memang itulah yang diharapkan. Akhirnya, waranggana menikah dengan Ki Ageng Mangir. Sejak itulah, Waranggana menjadi bagian keluarga Mangir. Demikian pula sebaliknya, Ki Ageng Mangir telah menjadi bagian keluarga Mataram. Sementara itu, ki Dalang Sandiguna bersama rombongannya yang telah berhasil menyelesaikan tugas kembali ke Mataram. Berbulan-bulan sudah, Waranggana tinggal di Mangir. Kini ia sedang hamil tua. Ia merasa bahagia hidup bersama Ki Ageng Mangir yang tampan dan perkasa itu. Putri Panembahan Senopati itu sangat mencintai suaminya. Meskipun demikian, tetap harus melaksanakan amanat ayahandanya, yaitu membawa penguasa Mangir ke Mataram. Suatu malam, ketika Ki Ageng Mangir sedang tidur, Waranggana mengusap tombak pusaka milik suaminya, tombak Kyai Baru Klinting dengan sampur sonder (ikat pinggang untuk menari ledhek). Setelah kesaktian tombak pusaka itu berkurang, ia pun membongkar jati dirinya di hadapan suaminya. Alangkah terkejutnya Ki Ageng Mangir mendengar pengakuan istrinya. Ia baru sadar ternyata istrinya yang amat dicintai itu adalah putri Sultan Mataram. Hati dan pikirannya menjadi tak karuan. Apalagi ketika putri Pambayun mengajaknya sowan (menghadap) ke Mataram untuk membuktikan darma baktinya sebagai menantu. Ki Ageng Mangir benar-benar berada di persimpangan jalan. Namun, ia menyadari bahwa semuanya itu sudah menjadi suratan takdir. Maka ia pun menerima permintaan istrinya untuk sungkem kepada mertuanya di Mataram. Keesokan harinya, berangkatlah Ki Ageng Mangir bersama Putri Pambayun ke Mataram dengan disertai sejumlah kerabat dan pengawalnya. Sebagai seorang ksatria yang memiliki harga diri, ia tak lupa membawa tombak pusakanya. Rombongan Ki ageng Mangir terus berjalan menuju Mataram yang berpusat di Kotagede. Dalam perjalanan, ketika sampai di sebuah desa, Ki Ageng Mangir tiba-tiba mendapat bisikan dari tombak pusakanya. Pusaka Kyai Baru Klinting mengingatkan Ki Ageng mangir agar tidak meneruskan perjalannya ke Mataram. Jika menerukan perjalanan, maka di-pal (dipastikan) nyawa akan melayang. Bisikan itu rupanya tidak menyurutkan niat Ki Ageng Mangir untuk melanjutkan perjalanan ke utara, walaupun ia tahu bahwa tindakannya itu beresiko. Sebelum meninggalkan desa tersebut, ia menamakan daerah itu Palbapang, yaitu berasal dari kata pal atau ngepal. Setelah perjalanan beberapa lama, rombongan itu sampai di suatu desa. Mereka berhenti sejenak untuk beristirahat. Ki Ageng mangir tiba-tiba teringat pada pesan tombak pusakanya. Ia pun sadar bahwa Panembahan Senopati adalah musuhnya, tetapi ia merasa bahwa dirinya adalah menantu yang harus berbakti kepada mertuanya walaupun hatinya ngemban mentul (bimbang). Konon, tempat beristirahat Ki Ageng Mangir itu kemudian dinamakan bantul, yaitu diambil dari suasana hati yang bimbang (ngemban mentul). Rombongan itu kemudian meneruskan perjalanan menuju Mataram. Setibanya di Mataram, Ki Ageng Mangir disambut oleh kerabat kraton dengan upacara penyambutan yang disebut ngunduh mantu. Rupanya, upacara itu sudah diatur untuk menjebak Ki Ageng Mangir. Di depan Kraton terdapat sebuah bangsal tarub yang dijaga oleh Ki Juru Martani. Ketika Ki Ageng melewati tarub itu, Ki Juru Martani mengentikannya dan mengatakan bahwa tidak sopan jika seorang menantu membawa senjata saat sungkem kepada mertuanya. Sebagai menantu yang baik, Ki Ageng Mangr melepas semua senjata yang dibawanya, termasuk Kyai Baru Klinting. Kemudian, ia bersama istrinya segera sungkem kepada Panembahan Senopati. Sambutan Panembahan Senopati yang begitu ramah dan penuh kasih sayang membuat Ki ageng Mangir sedikit terlena. Di hadapan mertuanya, ia duduk bersimpuh dan bersembah sebagai tanda penghormatan. Ketika kepala Ki ageng Mangir hampir menyentuh lantai, panembahan Senopati langsung meraih kepala menantunya itu dan membenturkannya ke kursi singgasana yang disebut watu gilang. Ki Ageng Mangir pun tewas seketika.

Galeri Foto

Ki mangir wanabaya

 

Ki mangir wanabaya1

 

sebagai Ki Mangir Wanabaya dalam cabang Cerita Rakyat