Kyai Bodho

 

Alamat
Ds Wijirejo Kel.Wijirejo PANDAK BANTUL

-7.900909,110.298634

 

\"Dahulu kala, di Tanah Jawa, adalah suatu kerajaan besar, namanya Kerajaan Mataram, dengan pusat kerajaannya di Kota Kerta.Kerajaan Mataram diperintah oleh seorang raja besar dan sakti, bergelar Sultan Agung. Kanjeng Sultan Agung terkenal sebagai pemeluk Agama Islam yang saleh dan tekun beribadat. Pada hari-hari Jumat, Kanjerrg Sultan Agung biasa pergi ke Masjid Mekah untuk melaksanakan ibadat sholat Jumat. Pada suatu hari, Kanjeng Sultan Agung mendapat wisik yang isinya antara lain : agar supaya Kerajaan Mataram tenteram damai dan segenap rakyatnya hidup sejahtera, hendaknya Kanjeng Sultan Agung mempunyai abdi yang benama Kyai Dodho. Setelah mendapat wisik semacam itu, segeralah Kanjeng Sultan Agung menyebar abdi-abdinya meneliti ke seluruh wilayah Kerajaan Mataram, untuk mencari orang yang bernama Kyai Bodho. Setelah orang yang bernama Kyai Bodho itu diketemukan, lalu dibawa menghadap baginda raja dan diminta memberikan saran kepada Kanjeng Sultan Agung. Saran yang diberikan oleh Kyai Bodho untuk mengusahakan terjaminnya ketenteraman seluruh negeri dan kesejahteraan hidup seluruh rakyat adalah dengan memelihara kuda sembrani. Baginda menerima saran yang dikemukakan oleh Kyai Bodho. Pada waktu itu, Kuda Sembrani hanya terdapat di Mekah. Bagi Kanjeng Sultan Agung, pergi ke Mekah untuk mengambil Kuda Sembrani, bukanlah hal yang mustahil, sebab tiap hari Jumat Kanjeng Sultan pergi ke Mekah untuk bersholat Jumat. Pada suatu ketika, terlaksanalah, Kanjeng Sultan Agung mengambil Kuda Sembrani dari Mekah. Sesampai di Mataram, Kuda Sembrani itu lalu diserahkan kepada Kyai Bodho. Kyai Bodholah yang diserahi tugas sebagai \"\"pekathik\"\" khusus mengurus dan memelihara Kuda Sembrani \"\"klangenan\"\" baginda. Ternyata Kyai Bodho memiliki kamampuan yang luar biasa. Tiap-tiap hari Kyai Bodho pergi ke Mekah, guna mencari rumput dari Mekah untuk makan si Kuda Sembrani yang didatangkan dari Mekah itu. Rupanya Kuda Sembrani itu lebih senang makan rumput dari Mekah daripada rumput dari wilayah kerajaan Mataram. Itulah sebabnya, maka Kyai Bodho berkali-kali pergi ke Mekah mencari rumput untuk kuda itu. Kanjeng Sultan Agung heran. Berkali-kali beliau melihat sebuah keranjang tempat rumput dan sebuah \"\"caping\"\" terletak di depan pintu masjid Mekah. Beliau yakin, keranjang dan caping itu milik abdinya di Mataram, yaitu pekatik yang bernama Kyai Bodho. Pada suatu hari, selesai bersembahyang Jumat, Kanjeng Sultan Agung keluar dari Masjid Mekah, dilihatnya keranjang dan caping itu. Baginda mendekati keranjang dan caping itu lalu dicorengi \"\"injet”. Selesai member tanda pada keranjang dan caping dengan injet. Kanjeng Sultan Agung segera pulang ke Mataram. Sesampai di Kraton Mataram, ternyata Kyhai Bodho sudah asyik memberi makan Kuda Sembrani. Baginda lalu mengamat-amati keranjang dan caping Kyai Bodho. Ternyata keranjang dan caping itu ada tandanya injet. Jelaslah, keranjang dan caping itu adalal keranjang dan caping yang tadi dilihatnya di depan Masjid Mekah. Dengan peristiwa itu, tahulah baginda, bahwa Kyai Bodho itu memiliki kemampuan yang luar biasa. Kanjeng Sultan Agung lalu memerintah abdinya agar membuatkan kandang untuk Kuda Sembrani itu. Bangunan kandang segera dibangun. Setelah dirasa selesai, maka Kuda Sembrani itu dimasukkan ke dalam kandang. Palang-palang pintu kandangpun dipasang agar kuda itu tak dapat keluar. Ternyata Kuda Sembrani itu masih dapat lolos keluar, padahal palang-palang pintu kandang itu sudah ditutup kokoh. Rupanya mereka lupa, bahwa Kuda Sembrani itu dapat terbang. Ternyata kuda itu lolos melalui tutup keyong pada kandang itu. Sejak saat itu , maka baginda raja lalu mengundangkan, agar siapapun yang membuat kandang, jangan lupa memasang tutup keyong. Lolosnya Kuda Sembrani itu, membuat sedih hati Gusti Ratu Putri, permaisuri Kanjeng Sultan Agung. Cepat-cepat Gusti Ratu Putri lari, maksudnya akan mengejar larinya Kuda Sembrani. Kyai Bodho mencegah Gusti Ratu Putri untuk mengejar kuda, tetapi Gustri putrid tetap bersikukuh mengejarnyanya. Sementara itu, Kuda Sembrani yang lolos dari kandang itu terus terbang ke arah selatan, dan Gusti Ratu Putri lari sekencang-kencangnya mengejar kuda itu. Karena dipergunakan untuk berlari kencang mengejar Kuda Sembrani itu, maka gurgurlah kandungan Gusti Ratu Putri. Tempat gugurnya kandungan Gusti Ratu Putri itu, lalu dinamakan \"\"Banyu Tetes\"\" terletak di Gunung Permoni. Di tempat itu lalu didirikan \"\"cungkup\"\". Jadi, cungkup yang terletak di Gunung Permoni itu, bukanlah makam seseorang, melainkan tempat untuk menguburkan kandungan Gusti Ratu putri yang gugur. Keinginan Gusti Ratu Putri untuk mengejar Kuda Sembrani itu tetap besar, tetapi kekuatannya sudah habis sama sekali. Pada akhirnya, beliau hanya duduk merenung, menyerahkan kepada kekuasaan Tuhan. Seketika itu, tiba-tiba muncullah seorang wanita di depan Gusti Ratu Putri. Terkejutlah Gusti Ratu Putri, menyaksikan kehadiran wanita yang sangat tiba-tiba itu. Wanita itu menawarkan jasa untuk menangkap kuda sembrani dan memperkenalkan diri bahwa ia bernama Ratu Permoni. Gusti Ratu Putri akan memberikan imbalan apapun yang diminta asalkan kuda sembrani itu dapat ditangkap. Ratu Permoni mengajukan permintaan untuk dijadikan istri Kanjeng Sultan Agung dan menyuruh Gusti Ratu Putri pulang. Mendengar permintaan itu, tertegunlah Gusti Ratu Putri. Tetapi sudah terlanjur, beliau sudah menyanggupi. Pada waktu Gusti Ratu Putri kembali ke kraton, Kuda sembrani klangenan baginda dan Gusti Ratu Putri, ternyata telah sampai di Kraton. Sejak itu, maka Ratu Permoni atau Kanjeng Ratu Kidul, menjadi isteri Kanjeng Sultan Agung.\"

Galeri Foto

Kyai bodho

 

sebagai Kyai Bodho dalam cabang Cerita Rakyat