Sunan Geseng

 

Alamat
Ds Sitimulyo Kel.Sitimulyo PIYUNGAN BANTUL

-7.8435,110.467824

 

Pada zaman dahulu, ada seorang wali yang terkenal sangat sakti, namanya ialah Kanjeng Sunan Kalijaga. Dalam usahanya untuk menyiarkan agama Islam, Kanjeng Sunan Kalijaga senantiasa berkelana ke berbagai tempat di seluruh tanah Jawa. Pada suatu hari, perjalanan Kanjeng Sunan Kalijaga sampai di wilayah Bagelen. Waktu itu, sebagian besar penduduk Bagelen bermatapencaharian sebagai tukang “nderes” (penyadap nira aren). Saat Kanjeng Sunan Kalijaga tiba di Bagelen, ia menjumpai seseorang yang akan nderes, bernama Kyai Cakrajaya. Orang itu membawa tabung bambu sebagai wadah legen (nira) yang diikatkan pada punggungnya. Pada saat akan memanjat pohon kelapa, orang itu mengucapkan mantra: “Klonthang-klanthung, wong nderes buntute bumbung” (klontang-klanthung, orang nderes ekornya bumbung bambu). Mendengar itu, Kanjeng Sunan Kalijaga bertanya mengenai kalimat yang diucapkan oleh tukang deres tersebut. Kyai Cakrajaya menjelaskan bahwa kalimat yang diucapkan tersebut adalah mantra nderes yang diperoleh secara turun temurun. Kanjeng Sunan Kalijaga kemudian menawarkan mantra lain yang akan dapat memberikan hasil lebih baik. Kyai Cakrajaya pun tersinggung dan marah mendapat tawaran Kanjeng Sunan Kalijaga karena dianggap menggurui. Oleh karena itu ia pun minta bukti untuk menunjukkan apa yang dikatakan oleh Sunan Kalijaga. Untuk membuktikan perkataannya, Kanjeng Sunan minta agar diperbolehkan ikut memasak legen di rumah Kyai Cakrajaya. Menjelang siang hari, Kyai Cakrajaya mengajak Kanjeng Sunan Kalijaga ke rumahnya. Sesampai di rumah, mereka berdua mulai memasak legen, lalu di cetak dengan tempurung kelapa, untuk dijadikan gula. Kanjeng Sunan mencetak satu tangkep, lalu diserahkan kepada Kyai Cakrajaya. Setelah itu, Kanjeng Sunan pamit untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum berangkat beliau pesan agar gula satu tangkep hasil buatannya jangan dibuka sebelum ia keluar dari desa.  Setelah itu, Kanjeng Sunan Kalijaga meninggalkan rumah Kyai Cakrajaya. Beberapa saat lamanya setelah Kanjeng Sunan Kalijaga pergi, barulah Kyai Cakrajaya membuka cetakan gula yang diserahkan oleh tamunya tadi. Betapa terkejut Kyai Cakrajaya, setelah tahu isi cetakan itu, bukanlah gula kelapa, melainkan emas. Kini tahulah Kyai Cakrajaya, bahwa tamunya tadi bukannya orang sembarangan, melainkan orang yang memiliki kesaktian luar biasa. Cepat-cepat dia berlari keluar dari rumahnya, mengejar tamunya yang baru saja berangkat. Emas sebesar satu tangkep gula kelapa, ditinggalkannya begitu saja. Setelah berhasil mengejar, Kyai Cakrajaya pun menanyakan mantra tersebut dan minta untuk menjadi muridnya dengan menyerahkan hidup dan mati kepada Kanjeng Sunan. Sunan Kalijaga pun mengatakan bahwa untuk dapat mencapai kemampuan atau kesaktian tinggi harus memperhatikan laku, celathu, dan tumindak (usaha, perkataan, dan perbuatan). Singkat cerita, sejak saat itu, Kyai Cakrajaya meninggalkan tempat tinggalnya di Bagelen, meninggalkan segala barang miliknya, lalu mengikuti Kanjeng Sunan Kalijaga berkelana. Selama berkelana itu, Kanjeng Sunan Kalijaga mengajarkan ajaran agama Islam kepada Kyai Cakrajaya. Pada suatu hari, Kanjeng Sunan Kalijaga akan pergi bersembahyang di Mekah dan menyuruh Kyai Cakrajaya untuk menjaga tongkatnya. Kanjeng Sunan Kalijaga kemudian menancapkan tongkat bambunya ke tanah dan berpesan kepada Kyai Cakrajaya agar menjaga tongkat tersebut dan tidak meninggalkan tempat hingga mendapat perintah. Kanjeng Sunan pergi, sedang Cakrajaya dengan setianya melaksanakan pesan Kanjeng Sunan. Dia duduk bersila di dekat tongkat yang ditancapkan di tanah. Ternyata kepergian Kanjeng Sunan Kalijaga itu lama sekali, sehingga pada saat kembali lagi di tempat beliau menancapkan tongkat, keadaan telah berubah. Tempat itu telah ditumbuhi “dhapuran pring ori” (sejenis pohon bambu) yang rimbun sekali. Kanjeng Sunan Kalijaga pun kebingungan mencari Kyai Cakrajaya di antara rerimbunan dhapuran pring ori. Untuk mempermudah menemukan Kyai Cakrajaya, ia pun membakar rumpun bambu tersebut. Ketika rumpun bambu telah habis terbakar, dilihatnya Kyai Cakrajaya duduk bersila dengan kondisi kulit yang hangus terbakar. “Sekarang ujianmu sudah lulus, maka kamu kuberi sebutan Sunan,” kata Kanjeng Sunan Kalijaga. “Dan karena tubuhmu geseng (hangus), maka kamu kunamakan Geseng. Sejak saat itu, Kyai Cakrajaya dikenal dengan nama Sunan Geseng. Karena api yang mulad-mulad (berkobar-kobar) yang dapat membebaskan kamu dari kungkungan rumpun bambu, maka tempat ini kunamakan Muladan”. Dari tempat itu, Sunan Geseng lalu diajak berjalan ke arah timur. Di suatu tempat, Kanjeng Sunan Kalijaga lalu menancapkan tongkatnya. Setelah tongkat itu dicabut, timbullah sumber air dan menjadi sendang. Sunan Geseng disuruh mandi di sendang itu. Seketika itu pula kotoran hangus pada tubuh Sunan Geseng dapat bersih terhapus, hanyut di bawa aliran air, sampai di sungai Kedhung Pucung. Mengingat sendang yang digunakan untuk mandi tersebut dapat menyembuhkan luka-luka Kyai Cakrajaya, maka sendang itu kemudian dinamakan Sendang Banyu Urip. Kanjeng Sunan Kalijaga kemudian berkata lagi, “Kali Kedhung Pucung ini tempat tertampungnya noda kotoran atau cemar yang semula melekat pada tubuhmu. Para punggawa pemerintah jangan mandi di sungai ini, agar jangan kena cemar.” Konon, sampai sekarang, kepercayaan terhadap pengaruh air kali Kedhung Pucung itu masih hidup. Para pegawai pemerintah dan alat negara, tak berani mandi di kali itu, khawatir dipecat atau turun pangkat. Selanjutnya Kanjeng Sunan Kalijaga mengajak Sunan Geseng berjalan ke arah barat. Sampai di suatu tempat, mereka berdua berhenti, lalu menetap. Di tempat itu Kanjeng Sunan Kalijaga memberikan wejangan yang mendalam tentang agama Islam kepada Sunan Geseng. Dengan tekunnya Sunan Geseng ngaji (mempelajari) ilmu yang dituangkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Tempat itu akhirnya berkembang menjadi sebuah desa, disebut Desa Ngajen.

Galeri Foto

Sunan gesing

 

Sunan gesing1

 

sebagai Sunan Geseng dalam cabang Cerita Rakyat