Ki Ageng Suryomentaram

 

Alamat
Ds Pleret Kel.Pleret PLERET BANTUL

-7.863471,110.411285

 

Ki Ageng Suryomentaram memiliki nama kecil Bendara Raden Mas Kudiarmadji. Ia merupakan putra nomer 55 dari Sultan Hamengku Buwana VII. Ibunda Ki Ageng Suryomentaram bernama Bendara Raden Ayu Retnomandoyo, putri dari Patih Danuredjo VI. Ia menempuh pendidikan pertamanya di Srimanganti dan pernah juga mengikuti kursus Klein Ambtenaar dan belajar bahasa Inggris, bahasa Belanda, dan bahasa Arab. Ia juga pernah bekerja di gubernemen selama 2 tahun. Hobi utamanya adalah membaca hal-hal yang berkaitan dengan sejarah, filsafat, ilmu jiwa, dan agama. Ia juga pernah belajar mengaji pada KHA. Dahlan. Dalam kehidupannya, Ki Ageng Suryomentaram menemukan kegelisahan, kekecewaan yang sangat mengganggu pikiran dan perasaannya. Kegelisahannya ini di antaranya disebabkan oleh karena dalam kesehariannya (di dalam keraton) ia hanya menemukan sembah, perintah, marah, dan minta. Kematian kakeknya, Patih Danuredjo VI membuatnya semakin sedih dan kecewa. Diceraikannya ibunya oleh Sultan Hamengku Buwana VII semakin menambah kekecewaannya. Kekecewaannya semakin sempurna dengan meninggalnya istrinya setelah 40 hari melahirkan puteranya. Akhirnya Ki Ageng Suryomentaram melarikan diri dari lingkungan keraton dan menjalani hidup seperti orang biasa dengan berjualan kain dan bahkan menjadi pemborong penggalian sumur. Ia juga mengajukan dirinya untuk berhenti menjadi pangeran kepada ayahnya, Sultan Hamengku Buwana VII tetapi tidak dikabulkan. Permohonannya untuk berhenti menjadi pangeran dikabulkan setelah Sultan Hamengku Buwana VIII naik tahta. Sejak itu pula ia menjalani kehidupan yang “bebas”. Ia sering melakukan tirakat di tempat-tempat sepi (peziarahan).  Ki Ageng Suryomentaram kemudian menetap di Kroyo Bringin, Salatiga, sebagai petani sejak tahun 1925. Ki Ageng Suryomentaram juga dikenal sebagai Ki Ageng Bringin. Walau berdiam di Bringin, namun orientasi kegiatan dan orientasi spiritual budayanya tetap berkiblat ke Yogyakarta, antara lain sebagai anggota Perkumpulan Pangeran (Princes Bond) dan Perkumpulan Selasa Kliwonan. Beliau menjadi penceramah keliling untuk wilayah Salatiga dan sekitarnya, Madiun, Magelang, dan beberapa wilayah Pantura, seperti Semarang dan Kudus. Substansi wejangannya yang berinti logikopsikologi Jawa dijabarkan, antara lain dalam spektrum kepenuhan hidup dan manusia merdeka, pendidikan, rasa kebangsaan, dan matapencaharian. Wejangannya dikenal sebagai “kawruh begja,” “ilmu bahagia.” Metafora terkenalnya: “mulur mungkret.” Ki Ageng Suryomentaram adalah tokoh pendidikan luar sekolah dan pendidikan orang dewasa di pedesaan zaman itu, cukup berbeda dengan Taman Siswa (didirikan 1922 — Ki Ageng Suryomentaram ikut membidaninya). Pengaruh ajarannya semakin berkurang seiring jaman dan perkembangan alat komunikasi. Ki Ageng Suryomentaram bergaul terbuka dengan tokoh pemikir agama-agama dan para “politisi” serta telah mengomunikasikan idenya dengan banyak kalangan. Di Salatiga, tahun 1925-1959, pelbagai diskusi insidental (disebut “jonggringan”) tentang ajaran Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram (KJ KAS) dilakukan antara lain di Kemiri, Krajan, Kalisombo, dan Tamansari. Dasar filsafat Kawruh Jiwa (KJ) sebagai “filsafat” lahir dari serentetan wejangan KAS dalam bentuk ucapan atau metafora, hasil permenungan, penyimpulan, dan pengkristalan pengalaman hidup KAS sendiri). Dasar falsafah KJ adalah empat karya pemikiran KAS ketika bermukim di Bringin, Salatiga, yakni Uran-uran Begja (1928), Wejang Kawruh Begja Sakwetah (1931), Kawruh Bab Kawruh (1933), dan Kawruh Thukulan Jagad (1933) sebagai sintesis dari tiga tulisan sebelumnya. Uran-uran Begja adalah kumpulan tembang yang mengekspresikan makna petunjuk tentang adanya kasunyatan rasa pada setiap orang. Apabila dipahami dengan benar, akan membuahkan metodologi ke arah rasa begja. Wejang Kawruh Begja Sakwetah berinti wejang bahwa kita harus menghadapi individu lain sebagai ia seutuhnya (sakwetah). Pemahaman pokok isinya membuahkan rasa begja bila berhubungan dengan orang begja lain. Konteks hubungan demikian itu akan memunculkan rasa kepenak-ngepenakake, tenggang rasa, dengan dasar perirasa ketika “mengada” bersama orang lain. Kawruh Bab Kawruh berisi wejangan tentang pelbagai bentuk kita “mengada” dalam wujud. Bahasannya antara lain, bagaimana memelihara jalan pikiran sakwetah sebagai cara agar kita bisa menemukan jalan pikiran para orang begja. Dalam perjalanan hidupnya itulah Ki Ageng Suryomentaram kemudian dapat menelurkan pemikiran-pemikiran filosofis moralistiknya yang kemudian di antaranya dikenal dengan istilah Kaweruh Begja dan Mulur Mungkret, serta Sa Nem.

Galeri Foto

Ki ageng suryo

 

Ki ageng suryo2

 

Ki ageng suryo3

 

sebagai Ki Ageng Suryomentaram dalam cabang Cerita Rakyat