Ki Ageng Giring

 

Alamat
Ds Sodo Kel.Sodo PALIYAN GUNUNGKIDUL

Lokasi simpan
-8,004100

-8.0041,110.559921

 

Menurut cerita Ki Ageng Giring sangat gemar bertapa. Pekerjaan sehari-harinya menderes kelapa untuk dibuat gula merah. Di suatu pagi, Ki Ageng Giring memanjat pohon kelapa seperti biasanya untuk menderes kelapa. Di dekat pohon kelapa ia memanjat, terdapat sebuah pohon kelapa yang belum pernah berbuah. Waktu Ki Ageng baru memasang bumbung di pohon kelapa, tiba-tiba terdengar suara. Asal suara tadi dari buah kelapa di pohon yang satu itu. Ujar suara itu, “Wahai Ki Ageng Giring, ketahuilah barangsiapa dapat minum air degan (kelapa muda) ini habis sekaligus, seluruh keturunannya akan menjadi raja besar yang akan menguasai seluruh tanah Jawa.” Ki Giring setelah mendengar suara demikian, segera turun. Setelah meletakkan alat perlengkapan menyadap, segeralah ia naik pohon kelapa asal suara tadi. Setelah dipetik lalu dibawa turun dan tidak memikir lagi deresannya. Degan itu kemudian dibawa pulang. Sesampai di rumah, lalu ia kupas, tetapi tidak segera diminum sebab hari masih pagi. Ia pikir tentu tidak bisa habis sekaligus jika diminum waktu itu, sebab belum haus. Degan lalu disimpan di dapur. Ia lalu pergi ke hutan untuk mencari kayu. Sebelum berangkat, ia pesan kepada istrinya agar menjaga degan yang telah dipetiknya dan akan diminum setelah pulang dari hutan mencari kayu. Kala itu Ki Ageng Pemanahan mengunjungi saudaranya, Ki Ageng Giring atau Ki Ageng Paderesan. Persaudaraannya dengan Ki Ageng Mataram sedemikian baik sudah seperti saudara kandung saja. Waktu Ki Ageng Pamanahan tiba, Ki Ageng Giring belum pulang lalu menanyakan kepada Nyai Giring ke mana Ki Ageng Giring pergi. Nyai Ageng Giring menjelaskan bahwa Ki Ageng Giring sedang ke hutan untuk mencari kayu bakar. Ki Ageng Pemanahan lalu masuk ke dapur, mencari minuman legen (air nira). Setelah mencari di dapur tidak ada legen, yang ditemukan hanya sebuah degan. Segera Ki Ageng Pemanahan mengambilnya dan membawanya ke luar dapur. Sambil duduk di balai-balai, ia melubangi degan itu untuk diminum airnya. Melihat Ki Ageng Pemanahan akan meminum degan, Nyai Ageng Giring sangat terkejut dan mencegah Ki Ageng Pemanahan agar tidak meminumnya karena takut akan dimarahi suaminya. Namun Ki  Ageng Pemanahan menjawab, jangan kawatir, apabila nanti Ki Ageng Giring marah dia yang akan bertanggung jawab. Rasa haus yang dirasakan sudah tak tertahan lagi. Kemudian Ki Ageng meminum sampai habis, tidak tersisa setetes pun. Tidak lama kemudian Ki Ageng Giring datang dengan mengangkat kayu bakar dan meletakkannya di dapur. Ia lalu menuju ke paga tempat degan diletakkan. Setelah dilihatnya degan tidak ada, segera mencari istrinya untuk menanyakan keberadaan degan. Ketika berada di depan rumah, dilihatnya Ki Ageng Pemanahan berada di balai-balai sedang ditemui istrinya. Ia menyanyakan keberadaan degan yang semula ada di paga dapur. Nyai Ageng Giring pun menjelaskan kepada suaminya, bahwa Adi Pamanahan telah mengambil dan meminumnya karena kehausan. Lalu Ki Ageng Pamanahan membenarkan perkataan Nyai Ageng Giring dan bersikap pasrah apabila dimarahi. Suasana batin Ki Giring pun berkecamuk, namun akhirnya pasrah dan percaya kepada takdir. Meskipun sangat menyesal mendengar pernyataan Ki Ageng Pamanahan, ia mampu menguasai dirinya. Ki Giring menyerah atas kuasa Tuhan bahwa Ki Ageng Pamanahan digariskan untuk menurunkan raja-raja yang akan berkuasa di Tanah Jawa. Lama berdiam diri, Ki Ageng Giring lalu membuka tabir rahasia tentang suara gaib yang berasal dari degan itu. Ia punya permintaan kepada Ki Pamanahan, agar kelak keturunan Ki Giring dapat bergantian dengan Ki Pamanahan untuk bertahta di Mataram. Dari musyawarah diperoleh kesepakatan bahwa keturunan Ki Ageng Giring akan diberi kesempatan menjadi raja tanah Jawa pada keturunan yang ke tujuh. Versi lain menyebutkan bahwa Ki Ageng Giring ketika tirakat memperoleh Wahyu Mataram di Kali Gowang. Istilah gowang konon berasal dari suasana batin yang kecewa (gowang) karena gagal meminum air degan oleh karena telah kedahuluan Ki Ageng Pemanahan. Di kemudian hari, Panembahan Senopati atau Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan berhasil menjadi raja Mataram pertama meneruskan era Kerajaan Pajang. Setelah tujuh generasi, melalui Pangeran Puger yang kemudian bergelar Susuhunan Paku Buwana I, keturunan Ki Ageng Giring ikut mengemban tahta.

Galeri Foto

Desa sodo 1

 

Desa sodo 2

 

Desa sodo 3

 

sebagai Ki Ageng Giring dalam cabang Cerita Rakyat