Asal Mula Nama Dusun Gubug Rubuh

 

Alamat
Ds Getas Kel.Getas PLAYEN GUNUNGKIDUL

-7.930393,110.505158

 

\"Prabu Brawijaya V mempunyai permaisuri bernama Putri Campa yang merupakan persembahan dari Kerajaan Tiongkok, yaitu dari Kaisar Yan Lu dari Dinasti Ming, sebagai tanda persahabatan. Rupanya, kehadiran Putri Campa menimbulkan pertentangan di kalangan keluarga istana, Maka, dengan berat hati, Prabu Brawijaya V terpaksa menghibahkan permaisurinya€yang sedang mengandung itu kepada salah seorang putranya, yaitu Arya Damar, yang menjabat sebagai Adipati Palembang. Arya Damar adalah putra Prabu Brawijaya V dari salah seorang istri selirnya.Tak berapa lama tinggal di Palembang, Putri Campa melahirkan seorang anak laki-laki dan diberi nama Jimbun atau Raden Patah. Setelah melahirkan Raden Patah, Putri Campa kemudian dinikahi oleh Arya Damar dan memperoleh seorang anak laki-laki bemama Raden Kusen. Setelah dewasa, Raden Patah ditunjuk untuk menggantikan ayah tirinya, Arya Damar, menjadi Adipati Palembang. Namun, ia menolak dan pergi ke Jawa bersama Reden Kusen. Setibanya di Jawa, Raden Patah dan Raden Kusen kemudian berguru pada Sunan Ampel di Surabaya. Setelah itu, Raden Kusen mengabdi ke Kerajaan Majapahit. Kecakapan Raden Kusen membuat karirnya melesat dengan cepat, hingga dipercaya untuk menjabat Adipati Terung. Sementara itu, Raden Patah pergi ke Jawa Tengah untuk membuka hutan dan membangun sebuah pesantren yang diberi nama Pesantren Glagahwangi. Atas kepemimpinannya, pesantren itu semakin lama semakin maju. Suatu waktu, Raden Kusen yang telah menjadi Adipati Terung mengundang Raden Patah ke  kediamannya. la bermaksud mengajak kakak tirinya untuk menemui Prabu Brawijaya V di ibukota Majapahit. Singkat cerita, setibanya di ibukota, Raden Kusen memperkenalkan Raden Patah kepada Prabu Brawijaya V. Setelah Raden Patah dan Raden Kusen menceritakan asal usul mereka, barulah Prabu Brawijaya tahu bahwa Raden Patah adalah anaknya dan Raden Damar adalah cucunya. Raden Patah pun diangkat menjadi Bupati Glagahwangi yang kemudian berganti nama menjadi Demak dengan ibukota di Bintara. Menurut cerita, Raden Patah pindah dari Surabaya ke Demak sekitar tahun 1475. Dengan dibantu pamannya, pangeran Sabrang Lor, Raden Patah mengembangkan Demak Bintoro menjadi pelabuhan dagang yang ramai. Dua tahun kemudian, Raden Patah yang telah dinobatkan menjadi Sultan Demak menaklukkan Semarang yang termasuk wilayah bawahannya. Raden Patah berniat untuk menyerang Kerajaan Majapahit dan ingin mengislamkan ayahandanya beserta seluruh rakyatnya. Namun, niat itu dicegah oleh Sunan Ampel dan Raden Patah pun mengurungkan niat tersebut. Setelah Sunan Ampel meninggal dunia, Raden Patah akhirnya menyerang Kerajaan Majapahit. Dalam serangan tersebut, Prabu Brawrjaya V dan para pasukannya kalah. Oleh karena malu dan tidak mau masuk lslam, ia bersama sejumlah pengikutnya melarikan diri ke barat hingga tiba di wilayah Gunungkidul. Raden Patah yang mengetahui pelarian ayahandanya pun mengejar.  Sementara itu, Prabu Brawijaya V bersama pengikutnya terus menyusuri hutan lebat. Suatu ketika, sejumlah pengikut Sang Pabu berhenti di sebuah Gubuk yang berada di tengah hutan untuk beristirahat karena kelelahan. Tanpa disadari, Raden Patah dan pasukannya sudah sampai di daerah itu dan langsung menyergap. Akhirnya, pengiring Prabu Brawijaya V pun menyerah, sedangkan Sang Prabu berhasil meloloskan diri. Atas nasihat Sultan Demak itu, pasukan Prabu Brawijaya V yang tertangkap itu pun masuk Agama Islam. Di gubuk itu, mereka diajari cara melaksanakan shalat.  Sejak itu, daerah tersebut diberi nama Dusun Gubukrubuh, yang diambil dari kata gubug yaitu tempat mereka pertama kali melaksanakan shalat, dan kata rubuh yang berarti “runtuh\"\" memiliki dua pengertian, yaitu pengertian secara fisik dan secara batin. Secara fisik, kata rubuh diartikan sebagai rubuhnya badan pada saat shalat dan posisi berdiri ke posisi rukuk, kemudian ke posisi sujud. Secara batin, rubuh diartikan runtuhnya iman atau keyakinan mereka dari keyakinan agama Hindu menjadi keyakinan agama Islam. Prabu Bravrijaya V yang berhasil melarikan diri tiba di pantai selatan Gunungkidul. Di sana, ia mengalami kebuntuan dan tidak tahu harus berlari ke mana lagi karena terhalang oleh Laut Selatan.  Sang Prabu pun merasa bahwa barangkali hidupnya hanya sampai di situ. la pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan membakar diri hingga tewas karena seluruh tubuhnya kobong atau terbakar. Oleh masyarakat setempat, pantai tempat Prabu Srawijaya V membakar dirinya itu dinamakan Pantai Ngobaran, yang diambil dari kata kobar atau kobong.\"

Galeri Foto

Asal mula nama dusun gubug rubuh

 

Asal mula nama dusun gubug rubuh1

 

sebagai Asal Mula Nama Dusun Gubug Rubuh dalam cabang Cerita Rakyat