Asal Mula Kanjeng Kyai Plered

 

Alamat
Ds Girijati Kel.Girijati PURWOSARI GUNUNGKIDUL

-8.002444,110.344789

 

\"Dahulu kala, ada seorang tumenggung bernama Tumenggung Wilatikta. Sang Tumenggung mempunyai dua orang anak, yang sulung laki-laki, gagah dan tampan bernama Raden Sahid. Anak perempuan, berparas cantik jelita, bernama Rasa Wulan. Suatu ketika Tumenggung Wilatikta memanggil kedua anaknya dan mengatakan bahwa Raden Sahid suatu saat akan menggantikan kedudukan ayahmu menjadi tumenggung. Tumenggung Wilatikta berharap agar raden Sahid segera beristeri sebelum menggantikan ayahnya. Mendengar perkataan ayahnya, Raden Sahid termenung karena sebenarnya belum memiliki rencana untuk beristeri. Di dalam hati dia menolak permintaan ayahnya tetapi tidak berani. Kepada Rasa Wulan, Tumenggung Wilantikta juga menyuruh agar segera mempersiapkan diri untuk menerima lamaran calon suami. Malam harinya, Raden Sahid gelisah dan tidak bisa tidur memikirkan permintaan ayahnya. Untuk menghindari paksaan ayahnya, pada malam hari Raden Sahid diam-diam pergi dari katumenggungan. Pagi harinya, Rasa Wulan mengetahui bahwa Raden Sahid tidak ada di kamarnya dan mencari kakaknya kemana-mana. Setelah tidak berhasil menemukannya, maka yakinlah Rasa Wulan, bahwa kakaknya telah meninggalkan rumah. Dia mengetahui alasannya mengapa kakaknya itu pergi, tidak lain ialah agar terhindar dari paksaan ayahnya untuk beristeri. Rasa Wulan mengetahui alasan kepergian kakaknya dan berniat untuk menyusul pergi. Setelah menyiapkan barang-barang yang diperlukan, pergilah Rasa Wulan dari katumenggungan dan pergi tanpa tujuan untuk mencari kakaknya. Penghuni katumenggungan mengetahui kepergian Raden Sahid dan Rasa Wulan hari berikutnya setelah kedua orang tersebut tidak terlihat sama sekali. Tumenggung Wilatikta segera menyebar hamba-hambanya ke berbagai tempat untuk mencari Raden Sahid dan Rasa Wulan. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan dilakukan pelacakan, tetapi tidak memperoleh hasil. Bertahun-tahun Raden Sahid mengembara, mengalami pahit dan getirnya penderitaan, serta menghadapi berbagai macam cobaan, sehingga kemudian hari Raden Sahid itu dikenal sebagai seorang wali yang sangat mashur, bernama Kanjeng Sunan Kalijaga. Adapun Rasa Wulan, di dalam pengembaraannya, setelah bertahun-tahun tidak berhasil menemukan kakaknya, dia lalu bertapa di tengah Hutan Glagahwangi. Di dalam hutan itu ada sebuah danau bernama Sendhang Beji. Tepat di tepi danau itu tumbuhlah sebatang pohon yang besar dan rindang. Pada salah satu cabang yang menjorok ke atas permukaar air danau Sendhang Beji itu, ada orang yang sedang bertapa. Orang itu bemama Syekh Maulana Mahgribi yang sedang “tapa ngalong\"\". Pada suatu siang yang panas, datanglah Rasa Wulan ke Sendhang Beji bermaksud untuk mandi karena gerah. Rasa Wulan tidak tahu bahwa di atas danau ada seorang laki-laki yang sedang bertapa di pohon. Karena mengira tak ada orang lain kecuali dia sendiri di tempat itu, maka dengan tenang dan tanpa malu-malu Rasa Wulan membuka seluruh pakaian penutup tubuhnya. Kesejukan air danau itu membuat kesegaran yang terasa sangat nyaman pada tubuh Rasa Wulan. Sementara itu, Syekh Maulana Mahgribi yang sedang bertapa tepat di atas danau tempat Rasa Wulan mandi, memandang kemolekan tubuh Rasa Wulan dengan penuh pesona. Melihat kecantikan wajah dan kemontokan tubuh Rasa Wulan yang sedang telanjang mandi tepat di bawahnya, bangkitlah birahi Syekh Maulana Mahgribi. Tanpa disadari, air mani Syekh Maulana Mahgribi, jatuh tepat pada tubuh Rasa Wulan yang sedang mandi. Karena peristiwa itu, maka hamillah Rasa Wulan. Rasa Wulan tahu, bahwa orang laki-laki yang bergantungan pada cabang pohon di atasnya itulah yang menyebabkan kehamillannya. Untuk menghindarkan diri dari tuduhan itu, maka Syekh Maulana Mahgribi lalu mencabut kemaluannya dari sela-sela pangkal pahanya. Sambil menyingkapkan sarungnya dan menunjukkan kepada Rasa Wulan bahwa dia tidak punya alat kelamin. Dengan menunjukkan pangkal pahanya, Syekh Maulana Mahgribi mengatakan bahwa ia bukan laki-laki sehingga tidak mungkin menghamili Rasa Wulan. Namun demikian, Rasa Wulan tetap menuntut agar Syekh Maulana Mahgribi bertanggung jawab untuk mengasuh dan membesarkan bayi yang kelak akan lahir. Syekh Maulana Mahgribi tidak lagi dapat mengelak. Kelak seteIah anak yang dikandung oleh Rasa Wulan itu lahir, lalu diserahkan kepada Syekh Maulana Mahgribi. Suatu keajaiban terjadi, kemaluan Syekh Maulana Mahgribi yang dicabut itu lalu berubah wujud menjadi sebilah mata tombak. Kandungan Rasa Wulan, yang setelah lahir diserahkan kepada Syekh Maulana Mahgribi, bayi laki-laki, dinamakan Kidang Telangkas. Keturunan Kidang Terangkas itu kelak secara turun-temurun, menjadi raja menguasai Tanah Jawa. Tombak yang terjadi dari kemaluan Syekh Maulana Mahgribi itu selanjutnya menjadi “sipat kandel” raja-raja Jawa. Tombak itu dinamakan Kanjeng Kyai Plered, wujudnya tombak pendek. Tombak Kanjeng Kyai Plered itu merupakan senjata andalan, dan merupakan simpul bagi raja-raja Jawa\"

Galeri Foto

Desa girijati 1

 

Desa girijati 2

 

Desa girijati 3

 

sebagai Asal Mula Kanjeng Kyai Plered dalam cabang Cerita Rakyat