Asal Usul Nama Desa Brosot

 

Alamat
Ds Brosot Kel.Brosot GALUR KULONPROGO

-7.940114,110.239159

 

Konon di sebuah tempat di tepi sungai Progo, tinggalah sekelompok penduduk yang hidup dengan damai. Sekalipun mereka tinggal di daerah yang penuh rawa, tetapi kehidupan  mereka selalu penuh dengan aktivitas masing-masing. Sebagian besar mereka bercocok tanam di tanah yang sebagian besar berupa rawa tersebut. Dengan gigih penduduk mengolah lahan yang ada untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi hidupnya. Mereka melakukan kagiatan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan  melakukan kegiatan bercocok tanam. Pendududk sangat bersukur atas pemberian Ynag Maha Kuasa atas tanah yang sebagian besar berupa rawa, namun dapar dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Semangat gotong royong dalam masyarakat tersebut berjalan sangat baik. Diantara para penduduk tertanam jiwa saling tolong menolong dan saling menghormati sesamanya. Ditengah kedamaian dan ketentraman penduduk desa tersebut, tingalah pula seorang pengembara yang tidak diketahui asl-usulnya. Masyarakat mengenal sosok tersebut sebagai seorang yang arif dan bijaksana, serta memiliki falsafah hidup sepi ing pamrih rame ing gawe. Penduduk merasa beruntung dengan kehadiran sosok orang tersebut di desa mereka.  Sudah banyak pendududk yang mendapat kesulitan dan akhirnya dapat tertolong oleh kemurahan hati pengembara itu. Orang tersebut dikenal bernama Ki Truno Bongso. Suatu ketika, salah seorang penduduk mengalami sakit yang sudah cukup lama tidak kunjung sembuh. Para sanak family dan tetangga sudah berusaha membantu untuk mencarikan obat demi kesembuhan orang itu. Namun tak satupun obat yang diberikan mampu mengurangi penderitaannya. Bahkan telah banyak biaya yang  dikeluarkan oleh keluarga orang tersebut guna berupaya penyembuhan. Dari hari ke hari penyakit orang tersebut semakin parah sampai pada masa kritis. Banyak tetangga dan sanak family yang menunggui orang tersebut di masa kritis itu. Pada saat mereka merasa khawatir, tiba-tiba datang Ki Truno Bongso. Ki Truno Bongso menanyakan tentang penyakit yang menimpa orang tersebut. Setelah memahami apa yang tengah dialami oleh si penderita, kemudian Ki Truno Bongso meminta ijin ke kebun di sekitar rumah untuk mencari dedaunan dan tanaman-tanaman yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit. Taklama kemudian Ki Truno Bongso kembali dan kemudian membuat ramuan dari tanaman yang ia temukan. Setelah selesai meramu obat, Ki Truno Bongso kemudian memberikan ramuan tersebut kepada si penderita. Ia juga memberikan penjelasan kepada keluarga tentang ramuan yang dibuatnya dan berpesan agar keluarga membuatkan ramuan tersebut serta diberikan sehari dua kali. Hari ketiga setelah pemberian ramuan obat tersebut, Ki Truno Bongso menengok kembali perkembangan orang tersebut. Ternyata orang tersebut sembuh dari penyakit yang dideritanya. Keluarga sangat berterima kasih atas pertolongan Ki Truno Bongso dan bermaksud memberikan imbalan atas jasa baik dan pertolongan Ki Truno Bongso. Namun ketika imbalan itu belum sempat diberikan, Ki Truno Bongso kemudian pergi dari rumah itu tanpa mengucap sepatah katapun. Ia pergi entah kemana. Beberapa putaran bulan Desa tersebut masih dalam keadadaan aman, tentaram dan damai. Tiba-tiba di suatu malam yang elap, terdengan rsuara hiruk pikuk dan jeritan penduduk di tengah desa tersebut. Tak lama kemudian terlihat sinar merah dan kobaran api dari beberapa rumah. Ternyata beberapa rumah penduduk telah dibakar oleh segerombolan orang. Gerombolan itu sangat bengis dan tidak segan-segan berbuat jahat, bahkan membunuh orang. Malam itu penduduk sangat ketakutan sehingga mereka lari berhamburan menyelamatkan diri. Bahkan ada bebearpa orang penduduk yang meninggal karena dibunuh oleh gerombolan tersebut. Setelah penduduk berhamburan pergi dan bebarap terbunuh, gerombolan itu mengambil harta benda milik penduduk. Beberapa kali kejadian itu terulang kembali. Penduduk merasa sangat resah dan ketakutan. Tak seorang pun dari penduduk itu yang berani melawan kekejaman gerombolan yang belakangan diketahui dipimpin oleh ki Bajul Putih. Ki Bajul Putih adlah sosok manusia yang memiliki kesaktian luar biasa. Dengan kesaktian yang dimilikinay, ia dapat menjelma menjadi seekor buaya putih yang sangat besar buas dan kejam. Akibatnya penduduk tidak berani melakukan kegiatan mereka sehari-hari. Mereka tidak beranai bercocok tanam, dan berdagang. Sepanjang hari mereka diliputi kecemasan dan ketakutan jika tiba-tiba gerombolan tersebut kembali datang dan membuat kerusakan di desa tersebut. Di saat penduduk merasa resah, cemas, dan takut, tiba-tiba Ki Trunobongso kembali muncul di desa tersebut. Seperti hari-hari biasanya, Ki Trunobongso yang seorang pengembara tengah berjalan di tepi Sungai Progo. Di tengah perjalanan Ki Trunobongso bertemu dengan seseorang, yang tak lain adalah salah seorang tokoh Dusun tersebut. Tokoh Dusun tersebut segera menyapa terlebih dahulu kepada Ki Trunobongso. Terjadilah perkenalan di tengah jalan antara dua sosok manusia tersebut. Ki Trunobongso segera memperkenalkan jatidirinya, kemudian orang tersebut juga memperkenalkan dirinya yang bernama Joko Kemuning. Joko Kemuning adalah salah seorang tokoh di Dusun tersebut. Semula Joko Kemuning hendak pergi tanpa diketahui dan ditentukan tujuan yang dikehendaki. Ia hanya tahu bahwa ia merasa memiliki kewajiban dan tanggungjawab atas warga Dusun yang merasa resah karena adanya sekelompok orang yang selalu berbuat jahat di Dusun tersebut. Joko Kemuning bercerita panjang lebar tentang kegelisahan masyarakat terhadap ulah gerombolan yang sering merampok harta penduduk, kelompok tersebut dipimpin oleh seorang yang bengis bernaman Bajul Putih. Ia terkenal bias berubah wujud dari sosok manusia menjadi seekor buaya putih yang besar dan sangat buas. Ia tidak segan-segan menculik para gadis, membunuh, dan tindakan kejam lainnya. Suasana dusun yang aman, tenteram, dan damai, kini berubah menjadi sepi dan mencekam. Tak seorangpun tokoh atau warga dusun yang sanggup menghentikan ulah gerombolan Bajul Putih. Tak seorangpun penduduk dusun yang memiliki kesaktian di atas kesaktian yang dimiliki Bajul Putih. Maka Joko Kemuning yang merasa memiliki tanggungjawab atas ketentraman warganya, bermaksud mencari orang yang mampu menghentikan ulah kejam Bajul Putih. Setelah mendengarkan keluh kesah Joko Kemuning, tanpa menyepakati dan memperhatikan imbalan yang ditawarkan Ki Trunobongso segera mengajak Joko Kemuning untuk mencari Bajul Putih. Keduanya berjalan mencari Bajul Putih, dan ternyata dari kejauhan sudah terdengar keributan yang tak lain adalah aksi gerombolan Bajul Putih yang sedang membuat kekacauan di tengah warga dusun. Saat itu Ki Bajul Putih dan anak buahnya sedang beraksi melakukan penjarahan dan berbuat kekacauan di dusun tersebut. Dengan membabi buta gerombolan itu membuat kerusakan rumah-rumah penduduk dan membakarnya. Ki Trunobongso segera menghampiri Ki Bajul Putih dan berrmaksud mengingatkan Bajul Putih agar menghentikan ulah anak buahnya. Dengan santun Ki Trunobongso meminta kepada Bajul Putih untuk mengembalikan harta penduduk yang telah dirampasnya. Namun Ki Bajul Putih tidak menghiraukan ucapan Ki Trunobongso dan bahkan ia hendak membunuh Ki Trunobongso. Akhirnya dengan sangat terpaksa Ki Trunobongso meladeni kemauan Bajul Putih dan anak buahnya. Terjadilah pertempuran yang sangat seru antara Ki Truno bongso dengan Ki Bajul Putih yang dibantu anak buahnya. Sekilas tampak pertempuran itu tidak seimbang, satu orang dikeroyok oleh beberapa orang. Namun, satu persatu anak buah Bajul putih dapat dilumpuhkan oleh Ki Trunobongso yang ternyata juga memiliki kesaktian yang sebanding dengan Bajul Putih. Kini perkelahian itu tampak seimbang karena tinggal satu melawan satu, Ki Trunobongso melawan Ki Bajul Putih. Adu kesaktian terjadi dan bergantian saling unggul. Akhirnya Ki Trunobongso dapat mengetahui kelemahan lawannya, dan dengan ajian yang dimiliki Ki Trunobongso menyerang Bajul Putih. Bajul Putih tidak mampu menahan serangan dan akhirnya tewas di tangan Ki Trunobongso. Walaupun Ki Trunobongso menang dalam pertarungan tersebut, namun dalam benaknya terjadi penyesalan karena telah membunuh beberapa orang. Ia lalu bersujud memohon ampun kepada Tuhan. Penduduk sangat gembira melihat gerombolan yang meresahkan telah tiada, mati di tangan Ki Trunobongso. Karena kegembiraannya, akhirnya penduduk sepakat untuk memberikan imbalan kepada Ki Trunobongso. Melalui Joko Kemuning penduduk menyatakan niatnya kepada Ki Trunobongso Mereka sangat mengingikan Ki Trunobongso bersedia diangkat menjadi pimpindan desa tersebut dan akan diberikan beberapa petak sawah hasil iuran penduduk. Tetapi Ki Trunobongso tidak menjawab sepatah katapun dan pergi begitu saja dari kerumunan penduduk, lalu sesaat kemudian hilang. Setelah kejadian tersebut, banyak peristiwa yang dialami oleh penduduk, dimana Ki Trunobongso selalu memberikan pertolongan dan bantuan kepada warga masyarakat desa tersebut. Tetapi setiap akan diberikan imbalan, Ki Trunobongso kemudian pergi tanpa pamit dan bahkan tanpa mengucap sepatah katapun. Dengan adanya peristiwa-peristiwa tersebut, akhirnya masyarakat memberi nama desa tersebut dengan nama desa Brosot yang berarti “brojol”, atau hilang/pergi tanpa pamit, dimana Ki Trunobongso selalu brojol, hilang, pergi tanpa pamit saat akan diberi imbalan atas budi baiknya.

Galeri Foto

Brosot 1

 

Brosot 2

 

sebagai Asal Usul Nama Desa Brosot dalam cabang Cerita Rakyat