Goa Kiskendo

 

Alamat
Ds Jatimulyo Kel.Jatimulyo GIRIMULYO KULONPROGO

-7.747045,110.13063

 

Dikisahkan Gua Kiskendo merupakan istana kerajaan yang dikuasai oleh kakak beradik bernama Mahesasura dan Lembusura. Mereka adalah pemimpin berbagai macam binatang buas di daerah itu. Keduanya memiliki  tubuh yang tinggi dan besar, berbadan manusia, tetapi berkepala binatang. Kakak beradik itu juga memiliki kesaktian yang luar biasa. Konon, jika salah satu diantara mereka meninggal, ia dapat hidup kembali setelah tubuhnya dilangkahi oleh saudaranya. Pada suatu malam, Mahesa Sura bermimpi bersanding dengan Dewi Tara, puti Sang Bathara Indra dari Khayangan. Keesok harinya, Mahesa Sura bermaksud mewujudkan mimpi tersebut. Ia pun meminta adiknya, Mahesa Lembu untuk melamar Dewi Tara. Betapa terkejut Lembu Sura saat mendengar permintaan kakaknya itu. Ia berusaha mencegah niat kakaknya untuk meminang dan memperistri Dewi Tara. Namun, usaha itu sia-sia karena Mahesa Sura bersikeras untuk tetap melamar. Mendengar tekad kuat kakaknya, Lembu Sura terpakasa berangkat ke Khayangan untuk melamar Dewi Tara. Benar apa yang dikatakan Lembu Sura. Setibanya di Kahyangan, lamaran kakaknya langsung ditolak oleh para dewa. Akhirnya Lembu Sura kembali ke bumi tanpa membawa hasil. Alangkah marah Mahesa Sura saat mendengar kabar buruk tersebut. Ia tidak bisa menerima penolakan itu. Pada saat itu pula Mahesa Sura mengajak adiknya untuk menyerang negeri Kahyangan. Begitu tiba di Kahyangan, mereka langsung mengamuk. Tak satu pun dari para dewa mampu mencegah perbuatan biadab kakak beradik itu karena kesaktian mereka yang luar biasa. Setelah menghancurkan seluruh isi kahyangan, Mahesa Sura membawa Dewi Tara ke bumi. Sementara itu, para dewa segera bermusyawarah untuk mencari cara agar dapat menumpas mahesa Sura dan Lembu Sura serta membawa kembali Dewi Tara ke Kahyangan. Akhirnya, mereka bersepakat untuk menggunakan kesaktian kedewataan yang bernama Aji Pancasona. Menurut mereka, hanya itulah satu-satunya cara untuk dapat mengalahkan Mahesa Sura dan Lembu Sura. Namun kesaktian yang maha dahsyat itu hanya bisa digunakan oleh orang yang berhati luhur, suci, dan mampu mengendalikan nafsu, sehingga ajian itu tidak digunakan secara sewenang-wenang. Setelah bermusyawarah, para dewa sepakat untuk menyerahkan aji Pancasona kepada seorang pertapa bernama Subali. Ia adalah putra Resi Gotama yang sedang bertapa di Suryapringga. Sudah bertahun-tahun Subali bertapa di tempat itu dengan cara mematikan seluruh raga dan memusatkan seluruh pancaran jiwanya kepada sang Pencipta untuk memohon ampun atas segala perbuatannya. Dalam tapanya, tiba-tiba Subali terbangun karena kedatangan Bathara Guru dan Bathara Narada disertai para dewa. Bathara Guru pun membangunkannya dan mengabulkan permohonannya dengan syarat harus menumpas angkara murka yang bersemayam di tubuh Mahesa Sura dan Lembu Sura. Tanpa berpikir panjang, subali langsung menyanggupi tawaran tersebut, dan menanyakan bagaimana mengalahkan Mahesa Sura karena sangat sakti. Bathara Guru kemudian memberikan Aji Pancasona dengan pesan untuk mempergunakannya bagi perdamaian di alam ini. Subali pun berjanji dengan sungguh-sungguh untuk menepati janji tersebut. Setelah menerima ajian pamungkas itu, Subali kemudian mengajak Sugriwa adiknya untuk membantu memerangi Mahesa Sura dan Lembu Sura. Setibanya di mulut Gua Kiskendo, Subali meminta adiknya untuk tetap waspada dan berjaga-jaga di depan mulut gua. Setelah itu, Subali segera masuk ke dalam Gua Kiskendo. Tak berapa lama kemudian, ia kembali membawa Dewi tara yang dirampas dari tangan Mahesa Sura. Sementara itu, Subali akan masuk ke gua kembali menyelesaikan pertarungan dengan kedua penguasa Gua Kiskendo. Sebelum masuk ke dalam gua, ia berpesan kepada adiknya untuk menjaga Dewi tara.  Jika darah yang mengalir ke luar dari Gua Kiskendo berwarna merah, berarti Subali memenangi pertarungan itu. Namun jika darah berwarna putih yang mengalir, maka itu pertanda Subali kalah. Jika peristiwa yang kedua ini terjadi, maka Sugriwa harus segera menutup gua dengan batu besar. Ketika Subali masuk di dalam gua, maka terjadilah pertarungan sengit melawan Mahesa Sura dan Lembu Sura. Meskipun tubuhnya kecil, Subali dapat mengimbangi perlawanan kedua musuhnya yang bertubuh besar. Justru dengan tubuhnya yang kecil, Subali dapat menghindar dan menyerang dengan gesit. Dengan ajian Pancasona, ia berhasil membinasakan Lembu Sura. Namun betapa terkejutnya ketika melihat Lembu Sura hidup kembali setelah tubuhnya dilangkahi oleh Mahesa Sura. Demikian pula ketika ia berhasil membinasakan Mahesa Sura dan hidup kembali setelah tubuhnya dilangkahi oleh Lembu Sura. Subali sangat heran dan bingung melihat kesaktian kedua musuhnya. Setelah berpikir keras, akhirnya ia menemukan cara untuk menghadapi yaitu membinasakan mereka secara bersamaan. Dengan cara itu, mereka tidak bisa saling melangkahi satu sama lain. Subali kemudian mengubah dirinya menjadi besar sebesar tubuh musuhnya. Pada saat yang tepat, ia berhasil memegang tanduk kedua musuhnya lalu membenturkannya. Tak ayal lagi, kepala kedua makhluk tersebut pecah sehingga darah bercampur otak yang berwarna putih mengalir ke luar gua. Saat melihat darah yang berwarna merah bercampur putih keluar dari gua, Sugriwa yang berada di depan mulut gua mengira saudaranya tewas bersama salah satu dari musuhnya. Dengan cepat ia menutup mulut gua dengan batu besar. Setelah itu, segera ia meninggalkan tempat   itu dan membawa Dewi Tara ke Khayangan. Sesampai di sana, mereka disambut oleh para dewa dengan perasaan suka cita. Para Dewa merasa gembira karena Dewi Tara dapat kembali ke Khayangan dengan selamat. Namun, mereka bersedih karena Subali tewas dalam pertarungan itu. Sugriwa dianugerahi Dewi Tara sebagai istri. Sebenarnya, Sugriwa merasa berat menerima anugerah tersebut karena yang lebih berhak adalah Subali, kakaknya. Namun karena yakin kakaknya telah tewas, maka ia pun bersedia menerima hadiah itu. Tak berapa lama kemudian, pesta perkawinan Sugriwa dan Dewi Tara pun dilangsungkan. Sementara itu, Subali baru saja mengalahkan Mahesa Sura dan Lembu Sura terperanjat ketika melihat pintu Gua Kiskendo tertutup rapat dengan batu besar. Merasa dihianati adiknya, ia langsung naik pitam dan marah kepada adiknya, Sugriwa. Dengan kesaktiannya, ia menedang batu besar yang menutupi mulut gua hingga hancur berkeping-keping. Setelah itu, ia segera mencari Sugriwa ke Khayangan.  Sesampainya disana, ia mendapati Sugriwa bersanding di pelaminan bersama Dewi tara. Melihat hal itu, Subali sangat geram kepada adiknya. Baru saja Sugriwa akan menjelaskan kejadian yang sebenarnya, Subali langsung menghajarnya. Sugriwa pun berusaha mempertahankan diri karena merasa dirinya tidak bersalah. Akhirnya pertarungan sengit diantara kakak adik itu terjadi. Pertarungan itu tidak akan berakhir sekiranya sang ayah, Resi Gotama, tidak segera melerai mereka. Setelah mendengar penjelasan Sugriwa mengenai pemicu terjadinya pertarungan tersebut, Resi Gotama menjadi marah kepada Subali karena telah membuat malu keluarga dan mengaku berdarah putih. Menurut Resi Gotama, tidak ada manusia di dunia yang berdarah putih. Oleh karena ketakaburannya itu, Subali dikutuk oleh ayahnya sendiri, bahwa akan mati oleh ksatria titisan Bathara Wisnu bernama Prabu Rama Wijaya. Menurut cerita, sebelum menghembuskan nafas terakhir, Subali sempat mengucapkan terima kasih kepada Rama karena telah membebaskan nafsu amarah yang melekat pada dirinya. Sementara itu, Sugriwa mendapat restu dari Resi Gotama untuk tetap menikah dengan Dewi tara. Setelah menikah, Sugriwa membangun kerajaan yang diberinama Pancawati di Gua Kiskendo

Galeri Foto

Kiskenda 1

 

Kiskenda 10

 

Kiskenda 11

 

Kiskenda 12

 

Kiskenda 13

 

Kiskenda 14

 

Kiskenda 2

 

Kiskenda 3

 

Kiskenda 4

 

Kiskenda 5

 

Kiskenda 6

 

Kiskenda 7

 

Kiskenda 8

 

Kiskenda 9

 

sebagai Goa Kiskendo dalam cabang Cerita Rakyat