Asal Mula Upacara Bekakak

 

Alamat
Ds Ambarketawang Kel.Ambarketawang GAMPING SLEMAN

-7.804729,110.319716

 

Pada tahun 1755, Pangeran Mangkubumi dinobatkan menjadi raja pertama Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono I. sebagai raja baru, ia bermaksud mendirikan sebuah istana atau kraton sebagai tempat kediaman. Sembari menunggu pembangunan kraton itu selesai, Sultan memilih untuk beristirahat di sebuah Pesanggrahan yang terletak di Desa Ambarketawang, Sleman. Ketika itu, sebagian besar penduduk Ambarketawang bermatapencaharian sebagai pengumpul batu bata gamping dari gunung kapur yang ada di wilayah itu. Sri Sultan Hamengkubuono I tinggal di Ambarketawang bersama sejumlah abdi dalem. Dua abdi dalem yang setia adalah sepasang suam istri bernama Kyai dan Nyai Wirasuta. Keduanya adalah abdi dalem penongsong, yang sehari-harinya bertugas memayungi Sri Sultan Hamengkubuono I. Ke mana pun sang Sultan pergi, keduanya turut serta membawa payung kebesaran kraton. Selain setia, Kyai dan Nyai Wirasuta termasuk abdi dalem yang rajin. Di sela-sela menjalankan kewajibannya, keduanya memelihara beragam hewan, seperti ayam, bebek, burung puyuh, merpati, kelinci, dan landak. Mereka sangat menyayangi dan rajin merawat hewan-hewan peliharaan itu. Hingga pada suatu ketika, datanglah utusan dari kraton hendak menemui Sri Sultan Hamengkubuwono di tempat perisirahatannya untuk memberitahukan bahwa pembangunan kraton telah selesai. Keesokan harinya, Sri Sultan Hamengkubuwono I beserta abdi dalem bersiap-siap untuk kembali ke kraton. Namun, Kyai Wirasuta dan istrinya masih merasa betah tinggal di Ambarketawang. Kyai Wirasuta memohon ijin untuk tetap tinggal di Ambarketawang. Permintaan Kyai Wirasuta pun disetujui oleh Sang Sultan. Sejak itulah, Kyai Wirasuta tinggal di daerah itu bersama istri dan kedua putra, Raden Bagus  Gombak dan Raden Bagus Kuncung serta dua putrinya, Roro Ambarsari dan Roro Ambarsekar. Selain itu, ia juga memboyong kedua pembantu setianya yaitu Kyai dan Nyai Brengkut. Suatu hari, tepatnya hari Jumat Kliwon di bulan Sapar, Kyai Wirasuta bersama istrinya sedang membersihkan halaman pesanggrahan. Tanpa mereka duga sebelumnya, Gunung Gamping yang berada di dekat pesanggrahan itu runtuh. Karena posisinya sangat dekat dengan gunung itu, mereka pun tidak sempat menyelamatkan diri sehingga tertimbun batu-batu kapur. Ketika peristiwa itu terjadi, keempat putra putrinya dan pembantunya masih sempat melarikan diri bersama sebagian warga lainnya sehingga selamat dari musibah. Sementara hewan ternaknya hanya ada 3 ekor yang selamat, yaitu seekor merpati memakai sawangan, seekor burung puyuh bergelang emas, dan seekor landak berkalung sapu tangan merah. Mendengar kabar tentang musibah yang menimpa kedua abdi dalem kesayangannya itu, Sri Sultan memerintahkan para prajuritnya untuk membongkar reruntuhan batu-batu kapur yang ada di Gunung gamping itu. Namun, hingga batu kapur itu selesai disingkirkan, jasadKyai Wirasuta dan istrinya tidak ditemukan. Kedua jasad suami istri tersebut menghilang tanpa jejak. Di istana Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengkubuwono I duduk termenung mengenang kedua abdi dalemnya itu. Hatinya sangat sedih karena kehilangan orang yang disayangi. Kesedihan yang dirasakan sang Sultan hingga berbulan-bulan lamanya. Ketika kesedihan itu mulai lenyap, sang raja kembali dikejutkan oleh laporan dari abdi dalemnya yang mengabarkan bahwa beberapa penduduk Ambarketawang tertimbun lagi batu kapur yang runtuh. Mendengar laporan itu, Sri Sultan Hamengkubuwono I kembali berduka. Musibah itu kembali mengingatkan kepada Kyai Wirasuta dan istrinya. Kebetulan musibah itu juga terjadi pada bulan Sapar. Demikian seterusnya, hampir setiap bulan Sapar, penduduk Ambarketawang kerap mendapat musibah yang serupa. Oleh karena itulah, masyarakat meyakini bahwa meskipun jasadnya telah hilang, jiwa dan arwah Kyai dan Nyai Wirasuta masih tetap ada di Gunung Gamping. Dengan keyakinan tersebut, penduduk Ambarketawang menjadi resah. Merekapun khawatir untuk mengumpulkan batu-batu kapur di sekitar gunung terutama pada bulan Sapar. Mengetahui keresahan itu, Sri Sultan hamengkubuwono I pun bertitah kepada masyarakat Ambarketawang untuk mengadakan upacara selamatan setiap bulan Sapar. Upacara itu bertujuan untuk memohon kepada Tuhan agar dilindungi dari berbagai musibah. Adapun wujud upacara selamatan itu berupa penyembelihan bekakak yang dilengkapi dengan ubo rampe upacara lainnya, seperti tumpeng, ingkung ayam, jajan pasar, dam lain sebagainya. Penyembelihan bekakak dimaksudkan untuk menggantikan Kyai dan Nyai Wirasuta dan warga lainnya yang tertimpa musibah. Saat ini, Kirab atau prosesi Upacara Saparan Bekakak dimulai dari Lapangan Balai Desa Ambarketawang, Gamping, Sleman. Di lapangan ini semua peserta kirab berkumpul. Sebelum kirab dilaksanakan upacara diawali dengan pementasan karawitan, tari-tarian, dan fragmen dengan lakon Prasetyaning Sang Abdi. Pentas ini dilaksanakan di panggung Balai Desa Ambarketawang.

Galeri Foto

Ambarketawang bekakak 1

 

Ambarketawang bekakak 2

 

Ambarketawang bekakak 3

 

Ambarketawang bekakak 4

 

sebagai Asal Mula Upacara Bekakak dalam cabang Cerita Rakyat