Gusti Ayu Tulak Bronto

 

Alamat
Ds Sidoluhur Kel.Ds Sidoluhur GODEAN SLEMAN

-7.765736,110.285809

 

Pada suatu ketika, Kerajaan Majapahit diperintah oleh raja yang sangat berwibawa, ialah Sang Prabu Brawijaya. Pada masa pemerintahan Sang Prabu Brawijaya V, atau Raja Majapahit yang terakhir, dipesisir utara Pulau Jawa berdirilah suatu kerajaan Islam, Kerajaan Demak yang diperintah oleh Raden Patah. Raden Patah ingin mengembangkan agama Islam ke seluruh Tanah Jawa. Usahanya belum akan berhenti, sebelum Agama Islam tersiar ke seluruh Tanah Jawa. Raden Patah menyadari hambatan kelancaran penyiaran Agama Islam ke seluruh Tanah Jawa. Hambatan itu asalnya ialah dari Kerajaan Majapahit. Selama Kerajaan Majapahit masih jaya, penyiaran Agama Islam tentu masih menghadapi rintangan. Agar supaya penyebaran Agama Islam ke seluruh ranah Jawa tidak ada yang menghalang-halangi, maka Kerajaan Majapahit itu harus dihancurkan atau ditundukkan. Setelah direncanakan masak-masak dan telah dipersiapkan matang-matang maka Raden Patah mengirimkan bala-tentara yang kuat untuk memukul Kerajaan Majapahit. Mengetahui akan datangnya bala tentara kuat dari Kerajaan Demak yang akan menyerang Kerajaan Majapahit, maka gemparlah suasana di Kerajaan Majapahit. Para pejabat pemerintahan Kerajaan Majapahit menyadari, bahwa kekuatan pertahanan Kerajaan Majapahit akhir-akhir ini dalam keadaan lemah. Pasukan Kerajaan Majapahit tak akan mampu melawan atau menandingi serangan pasukan Kerajaan Demak. Sang Prabu Brawijaya mengumpulkan seluruh putra-putrinya dan segenap pejabat kerajaan kemudian melarikan diri. Dengan sangat tergesa-gesa, berangkatlah baginda dengan pengiringnya meninggalkan istana. Putra-putri baginda yang banyak jumlahnya dan para hamba kerajaan, juga meninggalkan kerajaan. Kepergian mereka tidak bergerombol menuju ke satu arah bersama-sama, melainkan tersebar ke segala penjuru. Ada rombongan yang mengungsikan diri ke arah timur, ada yang ke utara dan yang ke selatan, dan ada pula yang ke arah barat. Di antara rombongan yang mengungsikan diri ke arah barat. terdapatlah dua orang putra Sang Prabu Brawijaya, yang seorang laki-laki, dan yang seorang lagi perempuan. Dua orang putra-putri baginda raja Majapahit itu menetap dan mengasingkan diri di Bukit Breja, sekarang termasuk wilayah Desa Godean, daerah Kabupaten Sleman. Pada saat dua bersaudara putra-putri Prabu Brawijaya itu tiba di Bukit Breja, daerah itu kebetulan ditimpa musim kemarau panjang. Daun-daun pohon kering dan berguguran, hutan-hutan gundul, sungai-sungai dan mata air kering. Pada suatu hari, adik perempuan Raden Mas Jaka pekik merasa sangat haus, dan berkata kepada kakaknya, bahwa sudah tidak kuat lagi menahan rasa haus lebih lama. Dia merengek, minta tolong kepada kakaknya agar dicarikan air barang seteguk, untuk penawar haus. Raden Mas Jaka Pekik merasa sangat kasihan menyaksikan penderitaan adiknya. Dia sendiripun haus seakan tidak tertahankan, tetapi dia lebih merasa kasihan kepada adiknya. Berangkatlah Raden Mas jaka Pekik, kesana-kemari, mencari air untuk adiknya. Tiap sumber didatangi, tiap mata air ditengok, tetapi tidak ada hasil. Air sama sekali tak didapatkannya. Sumber-sumber dan mata air semua telah kering. Dalam usahanya akan menemukan sumber air, Raden Jaka Pekik lalu berjalan ke puncak bukit Breja. Sesampai di puncak bukit itu, dia lalu memandang ke segala arah, dengan harapan mudah-mudahan dapat dilihatnya sungai yang masih ada airnya. Tetapi ternyata sia-sia. Sama sekali tiada tampak olehnya sungai-sungai yang masih ada airnya.  Malang bagi Raden Mas Jaka Pekik. Karena beratnya menempuh perjalanan menuju tempat yang dikira ada airnya, menembus hutan belukar yang belum pernah dikunjungi manusia, menyeberangi jurang-jurang curam, tenaganya habis terkuras. Sesampai di tempat yang dituju, Raden Mas Jaka Pekik meninggal karena kepayahan, juga karena lapar dan haus yang sudah sejak lama ditahan. Jenasah Raden Mas Jaka Pekik dimakamkan di Bukit Pare Anom. Sampai sekarang makam itu masih ada, banyak dikunjungi orang yang berjiarah, yang mengharapkan peningkatan pangkat atau derajat. Tinggallah kini adik perempuan Raden Mas Jaka Pekik di Bukit Breja, dengan harap-harap cemas menantikan kedatangan kakaknya yang pergi mencari air. Badan gadis itu makin terasa lemah karena lapar dan haus. Sama sekali dia tidak tahu bahwa kakaknya telah meninggal dalam perjalanan mencari sumber air itu. Ia tetap menanti kakaknya yang akan datang dengan membawa air. Tetapi yang dinantinya tak kunjung datang. Adik perempuan Raden Mas Jaka Pekik itu seorang gadis yang sangat cantik. Orang-orang di sekitar tempat tinggalnya menjuluki dia Gusti Ayu. Karena cantiknya, maka banyaklah orang yang jatuh hati kepada Gusti Ayu. Bahkan tidak sedikit jumlahnya orang yang telah meminang gadis itu, tetapi tidak seorangpun diterima. Karena kegigihannya menolak curahan kasih dari orang-orang yang jatuh hati kepadanya, maka Gusti Ayu itu kemudian dinamakan Tulak Bronto. Nama lengkap gadis adik Raden Mas Jaka Pekik itu kemudian menjadi Gusti Ayu Tulak Bronto. Dalam keadaan penuh penderitaan, Gusti Ayu tetap menantikan kedatangan kakaknya. Badannya kurus kering karena lapar dan haus. Untuk mengisi waktu dalam menanti kedatangan kakaknya, Gusti Ayu mengumpulkan kunyit banyak-banyak. Dan untuk mengobati rasa lapar dan haus, dia makan kunyit sedikit demi sedikit. Karena tiap hari tidak pernah makan makanan lain kecuali kunyit, lama kelamaan perut Gusti Ayu menjadi buncit, makin lama makin bertambah besar. Menyaksikan keadaan diri Gusti Ayu yang perutnya makin membesar itu, banyak orang yang merasa kasihan. Beberapa orang yang pemah dikecewakan karena lamarannya ditolak, lalu melontarkan tuduhan buruk. Mereka mengatakan, bahwa perut Gusti Ayu itu membesar karena mengandung. Gusti Ayu merasa sangat malu karena mendapat tuduhan bahwa dia mengandung. Tentu saja dia dituduh telah berbuat serong atau perbuatan yang melanggar adat. Lebih baik mati daripada menanggung malu. Begitulah tekad Gusti Ayu Tulak Bronto. Untuk menutup rasa malu karena dituduh berbuat aib, ia lalu suduk slira. Jenasah Gusti Ayu Tulak Bronto lalu dimakamkan di Bukit Breja. Sampai sekarang makam Gusti Ayu Tulak Bronto di Bukit Breja itu banyak dikunjungi para pejiarah, terutama orang-orang yang ingin menjadi dukun beranak yang baik.

Galeri Foto

Desa sidoluhur 1

 

Desa sidoluhur 2

 

Desa sidoluhur 3

 

Desa sidoluhur 4

 

Desa sidoluhur 5

 

sebagai Gusti Ayu Tulak Bronto dalam cabang Cerita Rakyat