Asal Mula Nama Kali Gajah Wong

 

Alamat
Ds (tidak Diinput) Kel.(tidak Diinput) YOGYAKARTA YOGYAKARTA

-7.817372,110.393402

 

Dalam kisah disebutkan, kerajaan Mataram pernah berpusat di Kotagede, kurang lebih tujuh kilometer arah tenggara Kota Yogyakarta. Pada waktu itu, Kerajaan Mataram dipimpin oleh Sultan Agung yang mempunyai prajurit yang sangat banyak, termasuk pasukan berkuda dan pasukan gajah. Kanjeng Sultan juga mempunyai abdi dalem-abdi dalem yang setia. Di antara abdi dalem tersebut terdapat seorang srati (pemelihara gajah), bernama Ki Sapa Wira. Setiap pagi, gajah Sultan yang bernama Kyai Dwipangga itu dimandikan oleh Ki Sapa Wiara di sungai dekat Kraton Mataram. Oleh karena itu, gajah dari negeri Siam itu selalu menurut dan terbiasa dengan perlakukan lembut Ki Sapa Wiara. Pada suatu hari Ki Sapa Wiara sakit bisul di ketiaknya sehingga ia tidak bisa bergerak bebas, apalagi harus bekerja memandikan gajah. Oleh karena itu Ki Sapa Wiara menyuruh adik iparnya Ki Kerti Pejok untuk menggantikan pekerjaannya. Sebenarnya, nama asli Ki Kerti Pejok adalah Kertiyuda. Namun karena terkena penyakit polio sejak lahir sehingga kalu berjalan meliuk-liuk pincang atau pejok menurut istilah Jawa, maka ia pun dipanggil Kerti Pejok. Pagi itu Ki Kerti berangkat menuju sungai bersama ki Dwipangga. Badan gajah itu dua kali lebih lipat badan kerbau, belalainya panjang, dan gadingnya berwarna putih mengkilat. Ki Kerti Pejok membawakan dua buah kelapa muda untuk makanan ki Dwipangga agar gajah itu patuh kepadanya. Ki Kerti memberi sebuah kelapa muda kepada Ki Dwipangga. Oleh Ki Dwipangga dengan belalainya lalu dibanting pada batu besar di pinggir jalan. Dua buah kelapa sudah terbelah, dan Ki Dwipangga memakannya dengan lahap. Belum habis kelapa yang kedua, Ki Kerti sudah menyuruh Ki Dwipangga untuk berdiri dan berjalan lagi. Dipukulnya pantat gajah itu dengan cemeti yang dibawanya. Setibanya di sungai, Ki Kerti menyuruh Ki Dwipangga untuk berendam. Sesaat kemudian, Ki Kerti segera memandikan gajah itu. Ia menggoso-gosok tubuh gajah tersebut dengan daun kelapa supaya lumpur yang melekat cepat hilang. Setelah bersih, gajah itu segera dibawa pulang dan diserahkan kembali kepada Ki Sapa Wira. Sebelum pergi, Ki Sapa Wira meminta tolong lagi Ki Kerti untuk memandikan Ki Dwipangga lagi besok pagi. Keesokan harinya, pagi-pagi itu Ki Kerti mendatangi rumah Ki Sapa Wira untuk menjmput Ki Dwipangga lagi. Pagi itu langit kelihatan mendung, namun tidak ada tanda-tanda hujan akan turun. Segera Ki Kerti Pejok membawa Ki Dwipangga menuju sungai. Kali ini Ki Kerti Pejok agak kecewa karena sungai tempat memandikan gajah tersebut kelihatan dangkal. Bagaimana mungkin dapat memandikan gajah jika untuk berendam pun tak bisa, pikir Ki Kerti Pejok. Kemudian ia membawa Ki Dwipangga ke arah hilir mencari genangan sungai yang lebih dalam. Sungai sekecil ini kok digunakan untuk memandikan gajah, gerutu Ki Kerti Pejok sambil terus menggosok punggung Ki dwipangga. Belum habis Ki Kerti Pejok menggerutu, tiba-tiba banjir bandang dari arah hulu. Ki Kerti Pejok kemudian terbawa banjir dan berteriak minta tolong sambil melambai-lambaikan tangannya. Ia hanyut tenggelam bersama Ki Dwipangga hingga ke Laut Selatan. Keduanya pun mati karena tidak ada seorang pun yang dapat menolongnya. Untuk mengingat peristiwa tersebut, Sultan Agung menamakan sungai itu dengan Kali Gajah Wong, karena sungai tersebut telah menghanyutkan gajah dan wong. Sungai itu terletak di sebelah timur Kota Yogyakarta. Konon, tempat Ki Kerti memandikan gajah tersebut saat ini bersebelahan dengan kebun binatang Gembiraloka.

Galeri Foto

Gajah wong 1

 

Gajah wong 2

 

Gajah wong 3

 

sebagai Asal Mula Nama Kali Gajah Wong dalam cabang Cerita Rakyat