Dhanang Sutawijaya

 

Alamat
Ds Purbayan Kel.Purbayan KOTAGEDE YOGYAKARTA

-7.832123,110.399246

 

\"Sultan Hadiwijaya merasa prihatin atas penderitaan Nyai Kalinyamat yang bertapa di Trunawaja karena dendamnya terhadap Arya Penangsang. Oleh Sultan Hadiwijaya, Nyai Kalinyamat lalu dibujuk agar mau pulang ke Pajang. Nyai Kalinyamat lalu mengajukan syarat itu bersedia kembali ke Pajang asalkan Arya Penangsang dibunuh. Sultan Hadiwijaya menyanggupi permintaan tersebut, tetapi ia juga mengajukan syarat yaitu Nyai Kalinyamat diminta pulang dulu ke Pajang. Ketika telah berada di Pajang lalu mulailah Kanjeng Sultan Hadiwijaya memikirkan cara bagaimana yang akan ditempuh untuk mengalahkan Arya Penangsang. Adalah pekerjaan yang tidak mudah mengalahkan Arya Penangsang itu sebab ia terkenal sangat sakti di samping itu punya pusaka yang sangat ampuh. Setiap saat Kanjeng Sultan selalu mengheningkan cipta tetapi belum juga menemukan cara yang dianggap baik. Akhirnya setelah sekian lama mengheningkan cipta tanpa hasil lalu dipanggillah Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi untuk diajak berunding. Setelah keduanya menghadap Kanjeng Sultan lalu menceriterakan persoalannya. Selanjutnya di hadapan Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi, Kanjeng Sultan menjanjikan bahwa barang siapa yang dapat berhasil membunuh Arya Penangsang atau Arya Jipang maka kepadanya akan diberi ganjaran tanah di Pati dan tanah Mentaok. Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi lalu berunding. Akhirnya Ki Ageng Pemanahan lalu menyampaikan pendapatnya kepada Ki Penjawi, bahwa tidak ada orang yang dapat membunuh Arya Penangsang selain Dhanang Sutawijaya. Dhanang Sutawijaya sebenarnya adalah anak kandung Ki Ageng Pemanahan tetapi sejak kecil telah dijadikan anak angkat Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Bahkan disamping dijadikan anak angkat maka Sutawijaya juga dijadikan murid yang paling dikasihi oleh Kanjeng Sunan. Setelah dewasa, Dhanang Sutawijaya menjadi seorang pemuda yang cakap, serta menguasai olah kanuragan. Ki Penjawi tidak berkeberatan dengan usul yang diajukan oleh Ki Ageng Pemanahan tersebut. Maka keduanya lalu menghadap Kanjeng Sultan menyatakan kesediaanya untuk membunuh Arya Penangsang. Selesai menghadap Kanjeng Sultan, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi lalu berangkat ke Jipang. Sesampai di Jipang, mereka bertemu dengai seorang “pekatik” (pemelihara kuda) yang sedang mencari rumput. Kebetulan pekatik yang ditemui ini adalah yang mengurusi kuda milik Arya Jipang. Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi ingin memancing kemarahan Arya Penangsang dengan maksud nanti kalau sudah marah tentu ia berbuat tanpa perhitungan sehingga ia akan mendahului menyerang ke Kali Bengawan. Ki Ageng Pamanahan lalu mengikatkan sepucuk surat pada telinga pekatik tersebut. Sesudah itu pekatik disuruh pulang. Adapun surat itu ditujukan kepada Arya Jipang yang isinya menantang perang. Ketika pekatik tersebut sampai di tempat tinggal Arya Penangsang, kebetulan Arya penangsang sedang mengadakan pasewakan bujana andrawina. Surat lalu disodorkan kepada Arya Penangsang. Melihat cara mengirim surat saja sudah menimbulkan kemarahan Arya Penangsang lebih-lebih ketika telah membaca isinya. Dengan tidak mengambil pertimbangan lagi ia terus mengendarai kuda andalannya menuju ke tepi Kali Bengawan yaitu tempat yang akan dipakai untuk mengadu kekuatan. Adapun kuda yang dikendarai Arya Penangsang itu dinamakan Gagak Rimang. Kuda inilah yang biasa dipakai untuk mengalahkan musuhnya dalam peperangan. Gigak Rimang perawakannya gagah dan tegar, badannya tinggi dan besar tetapi lincah sekali. Warna bulunya yang hitam mengkilat itu menjadikan Nampak berwibawa sehingga membuat musuh gentar. Oleh karena itu memang pantas dinamakan Gagak Rimang. Arya Penangsang sampai di pinggir kali Bengawan, maka Dhanang Sutawijaya sudah menunggu di seberang sungai itu. Di antara keduanya dibatasi oleh kali Bengawan. Dhanang Sutawijaya sebelum berangkat menghadapi Arya Penangsang telah dibekali nasehat oleh Ki Ageng Pemanahan agar tidak mendahului mencebur Kali Bengawan dan jangan mudah terpancing oleh lawan. Bagaimanapun tingkah dan perkataan Arya Penangsang, Dhanang Sutawijaya harus tetap berada di pinggir kali Bengawan supaya Arya Penangsang mencebur atau menyeberang Bengawan terlebih dahulu. Untuk menghadapi Arya Penangsang, Dhanang Sutawijaya harus menggunakan kuda betina untuk memancing konsentrasi kuda Gagak Rimang. Dengan tenang Danang Sutawijaya menunggu di pinggir Bengawan. Sesuai dengan pesan ayahnya dan datang dengan menunggang kuda betina serta membawa senjata tombak Kyai Plered. Di seberang sungai menanti pula Arya Penangsang yang telah siap dengan pusakanya keris Kyai Setan Kober. Dengan lantang, Arya Penangsang berteriak dan menantang untuk memancing lawannya, tetapi Danang Sutawijaya tetap tenang. Karena sudah beberapa lama berteriak-teriak tetapi tidak mendapat tanggapan, akhirnya Arya Penangsang menjadi marah dan tidak dapat mengendalikan emosinya, sehingga dengan tidak berpikir panjang mencebur ke sungai. Dengan demikian berarti ia telah melanggar pantangan. Danang Sutawijaya sangat bersenang hati ketika Arya Penangsang telah mendahului mencebur sungai ia lalu turun menyusul ke sungai. Terjadilah perang tanding di tengah Bengawan antara Arya Jipang di satu pihak melawan Dhanang Sutawijaya di lain pihak. Arya Penangsang menunggang Gagak Rimang seekor kuda jantan, sedang Danang Sutawijaya mengendarai kuda betina. Akibatnya kuda jantan itu birahi. Akibat selanjutnya Gagak Rimang hanya mengekor si kuda betina sehingga gerak-geriknya sulit dikendalikan. Karena Gagak Rimang sudah tidak mau lagi tunduk kepada kehendak tuannya, maka Arya Penangsang menjadi kewalahan. Arya Penangsang menjadi agak lengah karena pada waktu itu perhatiannya sebagian dicurahkan kepada kudanya yang sedang berontak itu. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Danang Sutawijaya. Dengan tombak Kyai Plered ditusuklah perut Arya Penangsang. Akibatnya perut Arya Penangsang menjadi robek dan ususnya menjulur keluar. Walaupun ususnya telah menjulur keluar dari perut tetapi Arya Penangsang masih tetap hidup. Bahkan kelihatan lebih gagah menyerang lawannya. Betul-betul orang pilih tanding ia. Supaya tidak mengganggu gerakannya maka usus yang menjulur itu lalu disampirkan pada pendok kerisnya. Dari sikapnya yang biasa saja itu nampaknya ia tidak merasakan sakit. Peperangan terus dilanjutkan. Kali ini Arya penangsang malah kelihatan lebih bersemangat, sedang Danang Sutawijaya posisinya agak terdesak. Mengetahui keadaan Danang Sutawijaya yang kurang menguntungkan itu, maka Ki Ageng Pemanahan yang berada di atas sungai lalu menggunakan siasatnya. Ia lalu pura-pura memihak kepada Arya Penangsang. Dengan lantang ia meneriakkan kata-kata : \"\"Bunuh saja Danang Sutawijaya!\"\" Demikian kata-kata itu diucapkan berulangkali. Siasat ini ternyata berhasil karena dengan mendengar kata-kata itu Arya Penangsang menjadi lebih bersemangat lagi menyerang. Dengan membabi buta dan tanpa perhitungan ia terus maju. Karena terbawa emosi maka ia kurang hati-hati, sehingga ketika kerisnya akan ditusukkan ke dada Danang Sutawijaya malah mengenai ususnya, sehingga putus. Arya Penangsang lalu tewas seketika. Dengan demikian peperangan telah selesai dan berakhir, kemenangan ada di pihak Danang Sutawijaya. Setelah jelas bahwa Arya Penangsang tewas maka Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi lalu menghadap Kanjeng Sultan Pajang melapor bahwa Danang Sutawijaya telah berhasil membunuh Arya Penangsang. Sultan Pajang ketika mendengar kabar itu sangat gembira dan seperti janji semula, menyerahkan Tanah Pati dan Mentaok sebagai hadiah. Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi lalu berunding. Akhirnya diperoleh kata sepakat bahwa Ki Panjawi mendapat bagian tanah Pati, sedang Ki Ageng Pemanahan mendapat tanah Mentaok. Sesudah serah terima selesai keduanya lalu menuju kempat bagiannya masing-masing, yaitu Ki Penjawi ke Pati dan Ki Ageng Pemanahan ke Mentaok. Sewaktu akan berangkat ke Mataram maka Ki Ageng Pemanahan mengajak anak kandungnya yaitu Danang Sutawijaya untuk ikut serta pindah kesana. Sesampai di Mentaok, mereka kemudian babat alas dan membangun pedukuhan disana. Demikianlah selanjutnya, tanah Mentaok yang semula berujud hutan belantara akhirnya berubah menjadi pusat kerajaan besar yang sangat mashur ialah kerajaan Mataram.\"

Galeri Foto

Dhanang sutawijaya 1

 

Dhanang sutawijaya 2

 

Dhanang sutawijaya 3

 

Dhanang sutawijaya 4

 

sebagai Dhanang Sutawijaya dalam cabang Cerita Rakyat