Ki Juru Martani (Ki Ageng Mandaraka)

 

Alamat
Ds Purbayan Kel.Purbayan KOTAGEDE YOGYAKARTA

-7.827056,110.393871

 

Nama Juru Martani muncul dalam Babad Tanah Jawi sebagai tokoh yang mendesak Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi agar berani mengikuti sayembara menumpas Arya Penangsang. Ki Juru Martani atau Ki Ageng Mandaraka adalah salah satu dari tiga murid Ki Ageng Sela. Ketiga murid Ki Ageng Sela adalah Ki Juru Mertani, Ki Penjawi, dan Ki Ageng Pemanahan. Ki Penjawi kelak mendapatkan tanah Pati dan Ki Pemanahan mendapatkan Tanah Mentaok setelah berhasil mengalahkan Adipati Arya Penangsang. Sementara Ki Juru Mertani ikut membuka Hutan Mentaok bersama Ki Ageng Pemanahan. Ki Juru Mertani (Ki Ageng Mandaraka) adalah putra Ki Ageng Saba (Ki Ageng Made Pandan). Ibunya adalah salah satu putri dari Ki Ageng Sela. Ki Ageng Saba adalah putra Sunan Kedul. Sedangkan Sunan Kedul adalah putra dari Sunan Giri. Dengan demikian ia adalah cicit dari Sunan Giri. Versi lain menyatakan bahwa ia adalah cucu Ki Ageng Made Pandan I. Sedangkan nama ayahnya adalah Ki Ageng Pangkringan (Ki Ageng Pakiringan) dan ibunya bernama Rara Janten. Ki Juru Mertani mempunyai 3 (tiga) orang saudara, yakni Nyai Ageng Laweh, Nyai Manggar, dan Putri. Versi lain menyatakan bahwa ia memiliki adik perempuan bernama Nyai Sabinah yang kemudian dinikah oleh Ki Ageng Pemanahan. Jadi, ia adalah kakak ipar Ki Ageng Pemanahan. Dalam perurutan silsilah ia adalah saudara sepupu Ki Ageng Pemanahan sekaligus saudara ipar. Pada masa mudanya Ki Juru Mertani bersama-sama dengan Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi pernah menjadi murid Ki Ageng Sela (kakek Ki Ageng Pemanahan). Selain itu disebutkan juga bahwa mereka bertiga pernah berguru kepada Sunan Kalijaga. Ketiganya menjadi tiga serangkai yang memiliki daya linuwih baik secara kanuragan maupun kebatinan. Kelak ketiganya pun menjadi orang-orang pilih tanding. Ki Ageng Pemanahan kelak menjadi orang yang mendapatkan hadiah Hutan Mentaok yang kemudian dibukanya bersama Ki Juru Mertani menjadi Perdikan Mataram. Ki Penjawi mendapatkan tanah Pati dan menjadi Adipati di wilayah Pati, Jawa Tengah. Ki Juru Mertani sendiri kelak menjadi patih di awal-awal kebangkitan Kerajaan Mataram Islam. Ki Juru Mertani yang kemudian bergelar Ki Ageng Mandaraka memiliki dua orang putra, yakni Pangeran Madura dan Pangeran Juru Kiting. Pangeran Madura kelak berputra Pangeran Mandurareja (Adipati Mandurareja) dan Pangeran Upasanta. Keduanya pernah menjadi senopati andalan Mataram dalam menghantam Batavia (1628). Pangeran Mandurareja disebutkan pernah hendak membangkang pada Sultan Agung namun urung. Pangeran Mandurareja diperintahkan menggempur Batavia dan tidak diperkenankan pulang ke Mataram sebelum Batavia jatuh. Namun Pangeran Mandurareja mengalami kekalahan dalam peperangan tersebut. Ia bermaksud pulang ke Mataram dalam kondisi kalah perang. Oleh karena hal demikian, ia pun dijatuhi hukuman mati oleh Sultan Agung. Sementara itu Pangeran Upasanta (Tumenggung Upasanta) di kemudian hari diampuni oleh Sultan Agung sekalipun ia kalah dalam berperang. Ia kemudian diangkat sebagai Bupati di Batang (dekat Pekalongan). Salah satu putri dari Pangeran Upasanta ini bahkan kemudian dinikahi oleh Sultan Agung dan melahirkan putra mahkota yang bernama Pangeran Arya Mataram yang kelak bergelar Sunan Amangkurat Agung atau Sunan Amangkurat Tegalarum. Perolehan hadiah tanah Hutan Mentaok dari Sultan Hadiwijaya (Sultan Pajang) kepada Ki Ageng Pemanahan (dan diwarisi oleh Danang Sutawijaya/Panembahan Senapati) tidak lepas dari peranan atau strategi yang diterapkan oleh Ki Juru Mertani. Semula Pemanahan dan Penjawi pun enggan menghadapi Arya Penangsang. Namun atas nasihat Juru Mertani mereka berangkat mengikuti sayembara yang dikeluarkan oleh Sultan Hadiwijaya. Atas nasihat dan strategi Juru Mertani pula mereka dapat memenangkan peperangan itu dan sekaligus melibatkan Danang Sutawijaya. Ketika Mataram mulai berdiri, Juru Mertani pun ikut mendukungnya. Berdirinya Senopati menjadi penguasa Mataram juga tidak lepas dari peranan Ki Juru Mertani. Ki Juru Mertani yang menjadi penasihat sekaligus patih di Mataram akhirnya sempat menjabat jabatan itu dalam kurun waktu yang cukup lama, yakni mulai tahun 1586 sampai dengan 1615. Ia sempat menjadi patih bagi raja Senapati (1586-1601), Mas Jolang (1601-1613), Pangeran Adipati Martapura (jadi raja hanya sehari), Sultan Agung (1613-1645). Ki Juru Mertani atau Ki Ageng Mandaraka meninggal tahun 1615.

Galeri Foto

Ki juru martani 1

 

Ki juru martani 2

 

Ki juru martani 3

 

Ki juru martani 4

 

sebagai Ki Juru Martani (Ki Ageng Mandaraka) dalam cabang Cerita Rakyat