Asal Mula Gendang Kyai Moyek

 

Alamat
Kel.Panembahan KERATON YOGYAKARTA

Lokasi simpan
Ds Panembahan

-7.807462,-7.807462

 

\"Pada jaman dahulu, ada suatu kerajaan di Tanah Jawa, ialah Kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bergelar Kanjeng Sinuwun Paku Buwana. Salah seorang putra baginda bergelar Pangeran Mangkubumi, terkenal perkasa, cerdas, sakti dan gagah berani. Sejak masih sangat muda, Pangeran Mangkubumi telah menampakkan sikapnya tidak senang kepada Kompeni Belanda. Beliau tahu, bahwa karena dijajah oleh Kompeni Belanda, maka rakyatnya hidup tertekan dan menderita. Setelah Pangeran Mangkubumi menginjak usia dewasa, ternyata sikap penentangannya terhadap Kompeni Belanda itu bukannya mengendor, bahkan semakin tumbuh menjadi-jadi. Bahkan setelah Pangeran Mangkubumi dewasa, beliau dapat mengetahui bahwa ternyata yang dijajah oleh Kompeni Belanda itu bukan hanya rakyat. Ternyata Kerajaan Surakarta Hadiningratpun di bawah kekuasaan penjajah Kompeni Belanda. Bahkan kekuasaan kerajaan dipergunakan oleh Kompeni Belanda untuk memperkuat penjajahannya atas rakyat jelata. Kenyataan semacam itu sangat menyedihkan hati Pangeran Mangkubumi. Beliau tidak rela rakyatnya terjajah oleh Kompeni Belanda. Beliau tidak rela tanah airnya dikuasai oleh Kompeni Belanda. Itulah sebabnya, maka pada suatu ketika Pangeran Mangkubumi keluar dari lingkungan istana, lalu menyatu dengan rakyat. Beliau membentuk pasukan gerilya, untuk melawan kekuasaan Kompeni Belanda. Dalam melaksanakan perang gerilya itu, Pangeran Mangkubumi berkali-kali berpindah tempat pertahanan. Suatu ketika, pasukan Pangeran Mangkubumi terdesak oleh pasukan Kompeni Belanda, sampai di wilayah Sukowati. Di Sukowati itu ada seorang laki-laki bernama Kyai Kentol. Mengetahui keadaan pasukan Pangeran Mangkubumi, Kyai Kentol lalu bertindak memberi bantuan dan mempersilahkan Pangeran Mangkubumi bersembunyi di dalam rumahnya. Kyai Kentol kemudian merentangkan tali mengelilingi halaman rumahnya. Tidak lama kemudian, pasukan Kompeni Belanda datang, akan mengejar Pangeran Mangkubumi, yang bersembunyi di rumah Kyai Kentol. Suatu keajaiban yang mengagumkan terjadi. Pasukan Kompeni Belanda sama sekali tidak mampu melewati batas rentangan tambang yang dibuat oleh Kyai Kentol. Begitu sampai di batas rentangan tambang itu, pasukan Kompeni Belanda menjadi kalap. Mereka tidak tahu lagi siapa lawan siapa kawan. Mereka saling menyerang dan baku hantam di antara sesama Kompeni. Mereka membunuh teman-teman mereka sendiri. Tidak sedikit jumlahnya pasukan Kompeni yang mati akibat serangan sendiri. Mereka yang masih hidup hanya tinggal sedikit, karena merasa panik lalu lari tunggang langgang cerai-berai. Dengan demikian, Pangeran Mangkubumi selamat. Mengetahui peristiwa yang baru saja terjadi itu, Pangeran Mangkubumi mengagumi kemampuan Kyai Kentol yang memiliki kesaktian tinggi. Selanjutnya Pangeran Mangkubumi meminta kesediaan Kyai Kentol menjadi pengawal beliau. Kyai Kentol menyanggupi. Dan sejak itu Kyai Kentol menjadi pengawal Pangeran Mangkubumi. Nama Kyai Kentol lalu diubah menjadi Kyai Tambang Yuda. Berkali-kali Kyai Tambang Yuda menunjukkan kemampuannya di dalam menghadapi Kompeni Belanda. Berkali-kali Pangeran Mangkubumi memperoleh kemenangan di dalam perlawanan terhadap pasukan Kompeni Belanda. Mengingat besarnya jasa Kyai Tambang Yuda, maka Pangeran Mangkubumi bermaksud mengangkat dia menjadi patih tetapi Kyai Tambang Yuda selalu menolak dengan halus. Pada suatu ketika, pasukan Pangeran Mangkubumi tiba di daerah Wonokromo. Di tempat ini Pangeran Mangkubumi bersiap-siap akan mendirikan kraton dan memerintahkan Kyai Tambang Yuda untuk mencari wahyu kraton. Maka berangkatlah Kyai Tambang Yuda, untuk mencari wahyu kraton. Sama sekali dia tidak tahu arah kemana dia harus pergi. Sama sekali dia tidak tahu, bagaimanakah wujudnya wahyu kraton itu. Pengabdiannya yang tulus dan kesungguhan hatinya menunaikan tugas yang dipikulnya, mendorong semangat Kyai Tambang Yuda melaksanakan perintah Kanjeng pangeran Mangkubumi. Dari tempat Pangeran Mangkubumi beserta pasukannya menetap, yaitu di Desa Wonokromo, Kyai Tambang Yuda berjalan ke arah barat laut. Sampai di suatu hutan, berhentilah Kyai Tambang Yuda. Bersamadilah dia di sana, kepada Sang Maha Kuasa dia memohon petunjuk dan pertolongan, untuk mendapatkan wahyu kraton, agar rencana pembentukan kerajaan dan pembangunan istana oleh Kanjeng Pangeran Mangkubumi dapat terlaksana dengan selamat. Dalam semadinya, Kyai Tambang Yuda dibangunkan oleh orang tua yang bernama Kyai Moyek.  Atas petunjuk Kyai Moyek, untuk mendapatkan wahyu kraton, Kyai Tambang Yuda disuruh memotong tonggak kayu besar untuk dijadikan kendhang, sedangkan jengetnya (Kulit penutup gendang) menggunakan kulit Kyai Moyek. Setelah jadi kendang itu harus dianggap sebagai pusaka kraton dan menunjukkan tempat untuk mendirikan istana kraton yaitu hutan tempat bertemunya mereka. Meskipun dengan perasaan sangat berat, Kyai Tambang Yuda melaksanakan petunjuk Kyai Moyek dengan membunuh dan menguliti Kyai Moyek. Dia membuat sebuah gendang dari tonggak kayu besar itu, dan untuk janget kendhang itu, dipergunakanlah kulit tubuh Kyai Moyek. Gendang itu lalu dinamakan Kyai Moyek. Setelah gendang itu selesai dibuat, kembalilah Kyai Tambang Yuda ke Wonokromo, menghadap Kanjeng Pangeran Mangkubumi sambil menyampaikan pesan Kyai Moyek. Sejak saat itu, persiapan membuat istana, yang semula akan didirikan di Wonokromo, tidak jadi diteruskan, kamudian dimulailah membuka hutan yang ditunjukkan oleh Kyai Tambang Yuda. Di tempat itu, lalu didirikan sebuah istana yang indah dan megah. Sesudah jadi, kraton atau istana itu dinamakan Kraton Yogyakarta Hadiningrat. Di kraton yang baru dibangun itulah, Kanjeng Pangeran Mangkubumi bertahta sebagai raja, bergelar Sultan Hamengku Buana. Kyai Tambang Yuda, setelah menyerahkan gendang Kyai Moyek dan menunjukkan tempat untuk mendirikan Istana, lalu mohon ijin pulang kembali ke desanya, ialah Sukowati. Sebagai tanda penghargaan atas jasa-jasa besar Kyai Tambang Yuda, maka Kanjeng Pangeran Mangkubumi atau Kanjeng Sultan Hamengku Buwana menghadiahkan bumi Sukowati menjadi milik Kyai Tambang Yuda turun-menurun. Sampai sekarang, gendang Kyai Moyek itu masih tersimpan di Kraton Yogyakarta, merupakan pusaka kraton. Gendang itu di keluarkan dari gedung pusaka, hanya dalam upacara besar

Garebeg Dal.\"

Galeri Foto

Panembahan 1

 

Panembahan 2

 

sebagai Asal Mula Gendang Kyai Moyek dalam cabang Cerita Rakyat