Asal Mula Kanjeng Kyai Tunggulwulung

 

Alamat
Ds Panembahan Kel.Panembahan KERATON YOGYAKARTA

-7.807462,110.368063

 

\"Di bawah pemerintahan Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma, kerajaan Mataram berkembang dengan pesatnya menjadi sebuah kerajaan yang besar. Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma terkenal memiliki kesaktian yang luar biasa, di samping memiliki kelebihan di dalam ketatanegaraan dan menyusun siasat perang, Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma juga seorang panglima perang yang sangat disegani, baik oleh kawan maupun lawan. Di bawah pimpinan Kanjeng Sultan Agung, bala tentara Kerajaan Mataram adalah angkatan perang yang sangat kuat dan tangguh, itulah sebabnya, maka banyak raja dari berbagai negeri di tanah seberang menyatakan takluk di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram. Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma kawin dengan Kanjeng Ratu Kidul, yang merajai segenap makhluk halus di seluruh Tanah Jawa. Akibat perkawinannya dengan Kanjeng Ratu Kidul, maka Kekuasaan Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma makin meluas, juga menguasai segenap makhluk halus. Makhluk-makhluk halus di seluruh tanah Jawa, tunduk di bawah perintah Raja Mataram itu. Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah seorang pemeluk agama Islam yang sangat saleh, tekun menjalani aturan agama dan rajin beribadat. Di samping itu, Kanjeng Sultan Agung sangat menjunjung tinggi adat tradisi leluhurnya, yaitu menghormat arwah para leluhur. Pada saat-saat tertentu Kanjeng Sultan Aiung memerintahkan hambanya menyediakan sajen-sajen untuk para leluhur. Lagi pula, Kanjeng Sultan Agung mengetahui, bahwa tempat-tempat dan benda-benda tertentu dijaga oleh, makhluk halus, misalnya : pohon besar, batu besar, sungai, sumber gunung dan sebagainya. Pada saat-saat tertentu Kanjeng Sultan Agung memerintahkan hambanya meletakkan \"\"buwangan\"\" di tempat-tempat yang dijaga oleh makhluk-makhluk halus itu, agar supaya makhluk-makhluk halus itu tidak mengganggu keselamatan manusia di sekitarnya. Sebagai seorang Islam yang saleh, Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma tiap hari Jumat bersembahyang Jumat di Masjid Mekah. Kesaktian beliau yang luar biasa, memungkinkan beliau bepergian ke tempat-tempat jauh hanya dalam sekejap mata saja. Pada suatu ketika, para penguasa agama di Mekah mengetahui, bahwa Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma pada saat-saat tertentu mengadakan sajen-sajen untuk arwah para leluhur dan para lelembut. Para penguasa agama di Mekah tidak menyenangi hal semacam itu. Perbuatan itu bertentangan dengan aturan agama Islam. Para penguasa agama Islam di Mekah lalu bersepakat untuk melarang Sultan Agung bersembahyang Jumat di Masjid Mekah. Begitulah, pada suatu hari Jumat, ketika Kanjeng Sultan Agung sampai di Masjid Mekah, di depan pintu masjid beliau dihadang oleh Haji Imam Saphei, salah seorang penguasa agama. Kanjeng Sultan Agung tidak diperkenankan sembahyang Jumat di Masjid Mekah. Dijelaskan oleh Haji Imam Saphei bahwa selama masih melakukan penyembahan dan member sesaji kepada jin setan, Kanjeng  Sultan tidak diperbolehkan masuk ke masjid Mekah. Kanjeng Sultan pun menjelaskan bahwa bukan Kanjeng Sultan yang menyembah makhluk-makhluk halus, melainkan makhluk-makhluk halus itulah yang menyembah kanjeng Sultan. Rakyat Kanjeng Sultan bukan hanya manusia biasa, tetapi juga makhluk-makhluk halus yang kaunamakan jin setan. Mereka diberi tugas untuk menjaga tempat-tempat tertentu dan pada saat-saat tertentu mereka kuberi sajen. Sajen itu bukannya wujud persembahan, tetapi imbalan atas tugas-tugas yang mereka laksanakan. Alasan apapun yang disampaikan oleh Kanjeng Sultan tidak diterima oleh Haji Imam Saphei. Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma kemudian pulang ke Mataram dan sangat marah karena merasa dihina. Sampai di kraton, masih menampakkan kesan marah. Mengetahui gelagat seperti itu, Kanjeng Ratu Kidul lalu menghadap baginda. Setelah mengetahui, bahwa kemarahan baginda itu akibat ulah para penguasa agama di Mekah, maka Kanjeng Ratu Kidul mengusulkan agar Kanjeng Sultan Agung berkenan menghukum mereka. Kanjeng Sultan Agung setuju. Seketika itu, Kanjeng Ratu Kidul mengerahkan pasukannya berwujud makhluk-makhluk halus, menyerang Mekah. Dalam waktu singkat di Mekah, terjangkitlah wabah yang sangat mengerikan. Berbagai macam penyakit terjangkit disana. Dalam waktu sangat pendek merenggut nyawa penderitanya. Wabah itu sangat mencemaskan masyarakat. Korban jiwa tak terhitung jumlahnya. Berita tentang orang mati mendadak tersiar tiap saat di mana-mana. Rakyat ngeri menghadapi wabah itu. Tabib tak berdaya sama sekali tak berhasil membendung timbulnya korban-korban baru yang susul-menyusul. Akhirnya, para penguasa agama di Mekah menghubungkan wabah yang dahsyat itu dengan peristiwa penolakan mereka terhadap Kanjeng Sultan Agung yang akan bersembahyang ke Masjid Mekah. Para pemuka agama di Mekah itu akhirnya yakin, bahwa wabah penyakit yang mengerikan itu tentu ditimbulkan oleh Kanjeng Sultan Agung. Maka dari itu, untuk menghentikan amukan wabah dahsyat itu, tidak mungkin berhasil tanpa bantuan Kanjeng Sultan Agung. Pada akhirnya, semua penguasa agama di Mekah itu menyimpulkan sikap, bahwa mereka harus minta maaf kepada Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma dan mengijinkan Kanjeng Sultan Agung bersembahyang di Masjid Mekah. Maka ditunjuklah Haji Iman Saphei mewakili seluruh penguasa agama di Mekah, untuk menemui Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma. Kepada Kanjeng sultan Agung Hanyakrakusuma, Haji Imam Saphei mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu mewakili seluruh pemuka agama di Mekah, dan mengijinkan Kanjeng Sultan Agung bersembahyang ke Masjid Mekah. Seketika itu pula, redalah kemarahan Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma. Beliau memerintahkan segenap balatentara Kanjeng Ratu Kidul menghentikan serangannya di Mekah. Sejak saat itu, wabah penyakit yang terjangkit di Mekah sirna. Sebagai pernyataan rasa terima kasih masyarakat Mekah, Haji Iman Saphei menyerahkan sebuah hadiah kepada Kanjeng Sultan Agung Hinyakrakusuma. Hadiah itu berwujud sehelai surban, peninggalan Nabi Muhammad. Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma mengucapkan terima kasih atas pemberian hadiah berwujud surban pelinggalan Nabi Muhammad itu. Sejak itu hubungan antara Mataram dengan Mekah menjadi baik kembali. Setiap hari Jumat Kanjeng Sultan Agung bersembahyang Jumat ke Masjid Mekah. Hadiah dari Mekah itu disimpan baik-baik oleh Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma. Kepada segenap hamba dan rakyatnya, Kanjeng Sultan Agung memberitahukan bahwa surban peninggalan Nabi Muhammad merupakan kenangan terhapusnya wabah yang mengerikan di Mekah. Selanjutnya, kepada makhluk-makhluk halus, Kanjeng Sultan Agung bersabda : \"\"Ingatlah baik-baik.\"\" Sewaktu-waktu kamu semua berbuat hingga menimbulkan wabah atau bencana, hentikanlah perbuatanmu itu, bila kamu melihat benda ini dikeluarkan.\"\"  Hadiah dari Mekah berwujud surban peninggalan Nabi Muhammad itu, selanjutnya dianggap sebagai benda pusaka di Kraton Mataram, dan diberi nama Kanjeng Kyai Tunggulwulung. Sejak saat itu bila terjadi wabah penyakit atau bencana besar di wilayah Kerajaan Mataram, Kanjeng Kyai Tunggulwulung dikeluarkan dari gedung pusaka, lalu dibawa \"\"kirab\"\" mengelilingi wilayah yang dilanda wabah atau bencana, untuk menolak atau menanggulanginya. Dewasa ini, Kanjeng Kyai Tunggulwulung itu masih ada, tersimpan sebagai benda pusaka di Kraton Yogyakarta. Kanjeng Kyai Tunggulwulung itu, dikibarkan sebagai bendera dan dibawa dalam iring-iringan untuk menolak bencana. Pada waktu dikibarkan, bendera Kanjeng Kyai Tunggulwulung itu diikatkan pada sebatang tombak pusaka Kraton Yogyakarta, namanya Kanjeng Kyai Slamet.\"

Galeri Foto

Of panembahan 1

 

Of panembahan 2

 

sebagai Asal Mula Kanjeng Kyai Tunggulwulung dalam cabang Cerita Rakyat