Museum Sonobudoyo Unit II

 

Alamat
Wijilan Yogyakarta Ds. Condrokiranan Kec. Kraton Yogyakarta

-7.804306,110.366203

 

Awal pembangunan museum ditandai dengan candrasengkala Buta Ngrasa Esthining Lata yang menunjukan tahun 1865 Jawa atau 1934 Masehi.

Pada tanggal 6 November 1935 Masehi diresmikan dan dibuka untuk umum dengan ditandai candrasengkala Kayu Winayangan ing Brahaman Budha yang menunjukan 9 Ruwah 1866 Jawa. Sedangkan nama museum bernama Museum Sonobudoyo, sono berarti tempat dan budoyo berarti budaya.

Pada tahun 1939 ntuk menunjang dan melengkapi usaha dari Java Instituut maka dibukalah Sekolah Kerajinan Seni Ukir atau Kunstambacht School.

Pada masa pendudukan Jepang di Yogyakarta museum dikelola oleh Bupati Paniradyapati Wiyata Praja (Kantor Sosial bagian pengajaran) dan pada masa kemerdekaan museum dikelola oleh Bupati Utorodyopati Budaya Prawito yaitu jajaran pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selanjutnya pada akhir tahun 1974 Museum Sonobudoyo diserahkan ke Pemerintah Pusat / Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan secara langsung bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal dengan berlakunya Undang- undang No. 22 tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah dan kewenangan Provinsi sebagai Otonomi Daerah.

 

Pada bulan Januari 2001 Museum Sonobudoyo bergabung dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi DIY diusulkan menjadi UPTD Peraturan Daerah No. 7 / Th. 2002 Tgl. 3 Agustus 2002 tentang pembentukan dan organisasi UPTD pada Dinas Daerah dilingkungan Pem. Prop. Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Surat Keputusan Gubernur No. 161 / Th. 2002 Tgl. 4 Nopember mengenai TU–Poksi.

Museum Sonobudoyo didirikan oleh Java Instituut, yaitu Yayasan Kebudayaan Jawa, Bali, Lombok, dan Madura pada masa kolonial yang anggotanya terdiri atas orang asing dan pribumi. Panitia perencana pendirian museum dibentuk pada tahun 1931 dengan anggota antara lain: Ir.Th. Karsten P.H.W. Sitsen, dan Koeperberg. Bangunan museum menggunakan tanah bekas “Shouten” hadiah dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan pembangunannya ditandai dengan candrasengkala memet “Buta Ngrasa Esthining Lata” yaitu tahun 1865 Jawa (tahun 1934 Masehi), terukir di “tebeng” yang letaknya di bagian atas gawangan pintu utama nDalem Ageng. Sedangkan peresmian dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana VIII pada hari Rabu Wage tanggal 9 Ruwah 1866 Jawa (6 Nopember 1935 Masehi) dengan ditandai candrasengkala memet “Kayu Winayang ing Brahmana Budha”, terukir pada dinding “regol” (gapura) Museum Sonobudoyo. Pada saat ini Museum Negeri Sonobudoyo merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah dari Dinas Kebudayaan DIY. Berdasarkan Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 42 Tahun 2008 Museum Negeri Sonobudoyo mempunyai tugas mengelola, mengembangkankoleksi, bimbingan edukatif, mendokumentasikan dan mempublikasikan benda-benda koleksi museum yang mempunyai nilai budaya dan ilmiah.

 

Pameran Tetap :

Selasa - Kamis

08.00 – 15.30 WIB

Jumat  08.00 – 14.00 WIB

 

Sabtu & Minggu         08.00 – 15.30 WIB

Senin dan hari besar atau libur nasional tutup

Pagelaran Wayang :

Senin - Sabtu           

20.00 – 22.00 WIB

Minggu dan hari besar atau libur nasional tutup

 

Tiket

Dewasa Perorangan               Rp. 3.000,-

Dewasa Rombongan              Rp. 2.500,

Anak–anak Perorangan          Rp. 2.500,-

Anak–anak Rombongan         Rp. 2.000,-

Wisatawan Asing                    Rp. 5.000,-

 

Pagelaran Wayang                 Rp20.000,-

Galeri Foto

Museum sonobudoyo 1

 

Museum sonobudoyo 2

 

Museum sonobudoyo 3

 

Museum sonobudoyo 4

 

Museum sonobudoyo 5

 

sebagai Museum Sonobudoyo Unit II dalam cabang Museum