SERAT PANJI SURYAWISESA

 

Alamat

Jl. Pangurakan No.6, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55122

Lokasi simpan
Museum Sonobudoyo

-7.802715,110.363956

Pemilik/Pengelola
Museum Sonobudoyo

 

PB C.11  181  Bhs jawa Aks Jawa Macapat  Rol 140 no.3

Sastra roman dari siklus Panji ini dimulai dengan Prabu Suryawisesa dari negara Cendakapura sewaktu memancing ikan di sungai Parangtulis, disertai oleh lurah Ujungkelang. Lama tidak berhasil menagkap ikan, bahkan kerisnya Kalamesani jatuh kedalam sungai dan hilang. Agaknya yang berhasil ditangkap hanya seekor ikan besar yang memakai jamang. Ikan dibawa ke Kraton untuk dipelihara di dalam kolam, tetapi pada ahirnya ikan itu tenyata sudah mati.Oleh Prabu Suryawisesa diperintahkan supaya ikan itu dipotong-potong dan dagingnya dibagikan kepada kerabat kraton. Sementara itu Prabu Anom Harya Kudalaleyan ( Putra Prabu Suryawasesa) dan istrinya Dyah Minawati telah mendengar tentang ikan yang bermahkota itu. Pada waktu itu mereka melihat tanda-tanda yang tidak baik, yaitu burung dandang yang berkaok kaok terus, kemudian muntah darah dan ahirnya jatuh mati. Sewaktu datang utusan raja yang membawa ikan, Dewi Minawati sekonyong-konyong menanggis dam mengumpat-umpat, karena ikan itu ternyata ayahnya sendiri, yaitu Begawan Minarda, yang pernah menghidupkan kembali anaknya, Kudalaleyan, yang dihanyutkan oleh banjir. Oleh karena itu Dewi Minawati akan melakukan bela pati. Sementara itu Jenggala terkena banjir besar sehingga banyak korban. Lurah ujungkeleng ternyata selamat, tetapi dalam keadaan sangat sedih mendengar banyak korban itu. Ia mendapat firasat supaya mengikuti seekor garangan kemana saja. Ahirnya ia sampai di negri Medhangkamulan, dimana aia akan dibunuh karena dinegri itu tidak boleh kemasukan seorang priya. Setelah  Ujungkelang menceritakan tentang negaranya yang baru mengalami musibah banjir itu, akhirnya ia diserahi pimpinan kekuasaan di Medhangkamulan. Akhirnya keris Kalamesani, kepunyaan Prabu Suryawisesa yang hilang dikembalikan oleh pendeta dari Gunung Takalulu bernama Resi Singgahiyang, yang telah mengantikan kedudukan ayahnya sebagai raja dengan nama Prabu Suryamiluhur.

Teks yang terdaat dalam naskah MSB/L262 (pupuh 1-10 saja) dan L330 (PUPUH 1-11). Sebagaimana diuraikan dalam kolofon depan (h.1), dan diperkuat dengan sandiasma ( tiap awal bait baru,h.1-11), teks ini ditulis oleh R. Panji Ranawarsita atas permintaan ayahnya R.Ng. Ranggawarsita pada tahun 1862.

Pada naskah h.1, pada purwapadanya tertulis tahun 1826 (=1897), yang mungkin merupakan tahun penyalinan atau tempat penyalinan. Kertas yang digunakan cocok dengan tarikh tersebut.

Galeri Foto

DSC04582 JPG

 

DSC04583 JPG

 

PBC11 00008

 

PBC11 00045

 

PBC11 00098

 

sebagai SERAT PANJI SURYAWISESA dalam cabang Naskah Kuno