Ngayogyakarta Hadiningrat

 

Ibarat pohon Kasultanan Ngayogyakarta adalah batang induk dari peradaban Yogyakarta saat ini. Berawal dari pecahnya Mataram Islam menjadi dua yaitu Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta, sehingga pada tahun 1755 Kasultanan Ngayogyakarta ditetapkan menjadi Daerah Swapraja yang mempunyai sistem pemerintahan sendiri.

 

Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi rahim dari persetubuhan kebudayaan Hindu-Budha, Asia, Islam dan Eropa yang sangat dipengaruhi oleh sejarah atau peristiwa yang mengakari terbentuknya. Yaitu peradaban Mataram Kuno (Hindu-Budha),Mataram Islam, Ekspansi dari bangsa Barat yang membawa ke masa kolonialisme. Hingga pada tahun 1941 Ngayogyakarta diakui oleh dunia sebagai negara yang merdeka. Dan pada tahun 1950 dengan kesadaran senasib seperjuangan untuk merdeka, adil dan menyatu maka Ngayogyakarta Hadiningrat lahir sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta yang merupakan bagian dari Indonesia.

 

Beberapa peninggalan baik dalam bentuk aktifitas kebudayaan, pemikiran atau karya sastra maupun dongeng, dan artefak dalam bentuk bangunan ataupun situs serta pusaka bisa kita jumpai saat ini. Peninggalan-peninggalan yang masih bisa kita jumpai membuktikan adanya akulturasi budaya. Ini menunjukan bahwa jiwa Ngayogyakarta Hadingrat akan tetap hidup dalam tubuh kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

KETERANGAN     

 

Tahun Berdiri:

1755 s/d 1950M

 

Pusat Pemerintahan :

Pusat Kota Yogya

 

Pencaharian :        

Keadaan Masyarakat pada masa Pemerintahan Ngayugyakarta Hadiningrat sudah cukup kompleks. Secara garis besar pemetaan ekonomi didapat dari beberapa sumber seperti pengolahan tanah, hutan kayu keras, perkebunan, pajak, dan uang sewa.

 

 

Peristiwa Penting:           

 

1703  - Susuhunan Amangkurat III wafat. Putra mahkota diangkat menjadi Susuhunan Amangkurat III.

1704  - Dengan bantuan  VOC  Pangeran Puger ditahtakan sebagai Susuhunan Paku Buwono I. Awal Perang Tahta I ( 1704 - 1708 ). Susuhunan Amangkurat III membentuk pemerintahan pengasingan.

1708  - Susuhunan Amangkurat III ditangkap dan dibuang ke Srilanka sampai wafatnya 1734 .

1719 - Susuhunan Paku Buwono I meninggal dan digantikan putra mahkota dengan gelar Susuhunan Amangkurat IV atau Prabu Mangkurat Jawa. Awal Perang Tahta Jawa Kedua  ( 1719 - 1723 ).

1726 - Susuhunan Amangkurat IV meninggal dan digantikan Putra Mahkota yang bergelar Susuhunan Paku Buwono II.

1742 - Ibukota Kartasura dikuasai pemberontak. Susuhunan Paku Buwana II berada dalam pengasingan.

1743  - Dengan bantuan VOC Ibukota Kartasura berhasil direbut dari tangan pemberontak dengan keadaan luluh lantak. Sebuah perjanjian sangat berat (menggadaikan kedaulatan Mataram kepada VOC selama belum dapat melunasi hutang biaya perang) bagi Mataram dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II sebagai imbalan atas bantuan VOC.

1745 - Susuhunan Paku Buwana II membangun ibukota baru di desa Sala di tepian Bengawan Beton.

1746  - Susuhunan Paku Buwana II secara resmi menempati ibukota baru yang dinamai Surakarta. Konflik Istana menyebabkan saudara Susuhunan, P. Mangkubumi, meninggalkan istana. Meletus  Perang Tahta Jawa Ketiga  yang berlangsung lebih dari 10 tahun ( 1746 - 1757 ) dan mencabik Kerajaan Mataram menjadi dua Kerajaan besar dan satu kerajaan kecil.

1749 - 11 Desember  Susuhunan Paku Buwono II menandatangani penyerahan kedaulatan Mataram kepada VOC. Namun secara de facto Mataram baru dapat ditundukkan sepenuhnya pada  1830 .  1830 . 12 Desember  Di Yogyakarta, P. Mangkubumi diproklamirkan sebagai Susuhunan Paku Buwono oleh para pengikutnya.  15 Desember  van Hohendorff mengumumkan Putra Mahkota sebagai Susuhunan Paku Buwono III.

1752  - Mangkubumi berhasil menggerakkan pemberontakan di provinsi-provinsi Pasisiran (daerah pantura Jawa) mulai dari Banten sampai Madura. Perpecahan Mangkubumi-RM Said.

1754 - Nicolas Hartingh menyerukan gencatan senjata dan perdamaian.  23 September , Nota Kesepahaman Mangkubumi-Hartingh.  4 November , PB III meratifikasi nota kesepahaman. Batavia walau keberatan tidak punya pilihan lain selain meratifikasi nota yang sama.

1755 -  13 Februari  Puncak perpecahan terjadi, ditandai dengan  Perjanjian Giyanti  yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu  Kesunanan Surakarta  dan  Kesultanan Yogyakarta .  Pangeran Mangkubumi  menjadi  Sultan  atas Kesultanan Yogyakarta  dengan gelar "Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing-Ngalaga Ngabdurakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah" atau lebih populer dengan gelar  Sri Sultan Hamengku Buwono I .

1757 - Perpecahan kembali melanda Mataram.  Perjanjian Salatiga , perjanjian yang lebih lanjut membagi wilayah Kesultanan Mataram yang sudah terpecah, ditandatangani pada  17 Maret   1757 di  Kota Salatiga  antara Raden Mas Said ( Pangeran Sambernyawa ) dengan Sunan  Paku Buwono III , VOC  dan Sultan  Hamengku Buwono I . Raden Mas Said diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan,  Praja Mangkunegaran  yang terlepas dari Kesunanan Surakarta dengan gelar "Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangku Nagara Senopati Ing Ayudha".

 

1813 - P. Nata Kusuma diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan,  Kadipaten Paku Alaman  yang terlepas dari Kesultanan Yogyakarta dengan gelar "Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam".

Sumber : 

  • History of Java, Sir Thomas Stamford Raffles
  • Mengenal Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Tim Penyususun Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat
  • Kota Yogyakarta Tempo Doeloe. Sejarah Sosial 1880-1930 oleh Abdurracman Surjomihardjo 
  • Sejarah Keraton Yogyakarta oleh Ki Sabdacarakatama

 

 

Daftar ngayogyakarta hadiningrat yang ada di Yogyakarta

Kode

Nama

Lokasi

 
7.2.A.1
Kereta Kanjeng Kyai Jimat
Yogyakarta
7.2.A.2
Kereta Kyai Manik Retno
Yogyakarta
7.2.A.3
Kereta Kyai Wimanaputro
Yogyakarta
7.2.A.4
Kereta Kyai Jong Wiyat
Yogyakarta
7.2.A.5
Kereta Laundawer
Yogyakarta
7.2.A.6
Kereta Kyai Jatayu
Yogyakarta
7.2.A.7
Kereta Kyai Kuthokaharjo
Yogyakarta
7.2.A.8
Kereta Kyai Roto Biru
Yogyakarta
7.2.A.9
Kereta Bedoyo Permili (Kereta kyai Permili)
Yogyakarta
7.2.A.10
Kereta Grudayaksa
Yogyakarta
7.2.A.11
Kereta Kyai Mandrojuwolo
Yogyakarta
7.2.A.19
Supit Urang
Yogyakarta