Kimpulan

 

Alamat

Ds. Kimpulan Umbulmartani Ngemplak Sleman

-7.688742,110.415588

Pemilik/Pengelola
BPCB

Tahun berdiri
900

 

Pada tanggal 11 Desember 2009 ditemukan sebuah struktur bangunan candi di lokasi pembangunan perpustakaan Universitas Islam Indonesia (UII), Jl. Kaliurang Km. 14,5 Yogyakarta. Lokasi temuan candi ini  secara administratif terletak di Dusun Kimpulan, Desa Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Penemuan tersebut kemudian dilaporkan ke Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta  (BP3 Yogyakarta) dan ditindaklanjuti dengan survei lapangan dan ekskavasi (penggalian) penyelamatan yang bertujuan  untuk  menampakungkapkan temuan semaksimal mungkin demi pelestariannya. Berdasarkan hasil ekskavasi yang dilakukan BP3 Yogyakarta, diketahui bahwa Candi Kimpulan memiliki satu buah candi induk berdenah bujur sangkar berukuran 6 x 6 m, satu buah candi perwara berdenah persegi panjang berukuran 4 x 6 m yang dibatasi dengan batas halaman I di sisi barat dan selatan berupa susunan batu gundul setebal 120 cm yang berjarak 11,20 m dari lingga patok pusat.  Di dalam candi induk ditemukan arca Ganesa, Yoni dan Lingga, serta wadah gerabah di bawah cerat yoni. Di dalam candi perwara ditemukan arca Nandi, 2 buah lapik padma yang mengapit arca Nandi, Lingga, dan Yoni.

Candi Kimpulan merupakan suatu bangunan candi yang terbuka, karena tidak ditemukan dinding dan atap bangunan. Penutup atap diperkirakan menggunakan bahan yang mudah lapuk (mungkin bambu atau kayu) dengan tiang kayu di atas umpak. Asumsi ini didasarkan atas adanya temuan umpak di lantai bangunan induk. Tangga naik ke bilik candi kemungkinan menggunakan tangga kayu, karena di candi ini tidak ditemukan adanya tangga naik.

Selama proses pengupasan tanah di candi induk dan candi perwara banyak ditemukan data-data arkeologis yang berupa peripih, mangkuk perunggu, benda-benda logam seperti fragmen besi, lempengan emas dan  perak, manik-manik, fragmen gerabah, mata uang emas, perak, dan lain se-bagainya. Lempengan emas dan perak bertulis telah dicoba dibaca oleh  Epigraf dari UGM (Drs Tjahjono Prasodjo, M.A). Menurut beliau, tulisan kemungkinan merupakan mantra, tetapi sampai sekarang belum terbaca dengan jelas, karena guratan tulisannya sangat tipis  dan lempengan mudah rapuh.

Hipotesis dari Tim Geologi UGM menyatakan  bahwa Candi Kimpulan terkubur oleh material-material dari endapan Merapi yang tertransportasikan melalui sungai-sungai yang berada di sekitar Candi Kimpulan.

Kondisi bangunan yang ditemukan masih intact, menurut Tim geologi disebabkan oleh dua hal, berikut ini.

1. Arus yang membawa bahan sedimen  tidak terlalu deras, sehingga boulder yang terbawa tidak menghantam bangunan dengan keras. Indikasi arus ini terlihat dari layer lapisan tanah (stratigrafi) yang relatif datar.

2. Arus yang membawa bahan sedimen tidak menghantam tegak lurus dengan dinding bangunan, tetapi menghantam bagian sudut bangunan sehingga arus dapat terbelah ke kanan dan kiri dinding bangunan.

Fungsi bangunan candi ini belum diketahui dengan pasti, namun latar belakang keagamaannya adalah agama Hindu dengan unsur-unsur aspek simbol dewa yang disederhanakan dalam satu ruang. Temuan lingga-yoni, arca ganesa, dan arca nandi membuktikan hal ini.

Penyebutan situs  dengan nama Candi Kimpulan disesuaikan dengan letak administratif situs yang berada di Dusun Kimpulan. Penyebutan berdasarkan keletakan administratif situs sudah lazim dalam disiplin arkeologi, sebab ada tiga cara penamaan situs atau bangunan cagar budaya. Pertama karena memang sudah disebut dalam prasasti (Contoh kasus ini adalah penyebutan Candi Kalasan). Kedua karena penyebutan oleh masyarakat (Contoh kasus ini adalah penyebutan Candi Barong). Ketiga berdasar letak administrasi wilayahnya (Contoh kasus ini adalah penyebutan Candi Sambisari, Candi Kedulan, dan Candi Gebang).

 

Tahun 2010 BP3 Yogyakarta telah melaksanakan kegiatan studi teknis dan pemugaran di Candi Kimpulan.

Galeri Foto

Candi kimpulan 1

 

Candi kimpulan 2

 

Candi kimpulan 3

 

sebagai Kimpulan dalam cabang Mataram Kuno