Suran Mbah Demang

 

Alamat
Kabupaten / Kota : Sleman Kecamatan : Gamping Kelurahan : Banyuraden Jalan / Dusun : - Ds. Modinan

Lokasi simpan
Modinan

-7.795622,110.322201

 

Ki Demang Cakradikrama Mengenang jasa Demang Cakradikerama, syukur kepada Tuhan atas rejeki yang telah diberikan dan memohon keselamatan warga agar dijauhkan dari bala/ malapetaka.

Semasa hidupnya Ki Demang hanya mandi setahun sekali pada tengah malam 7 Sura untuk menjaga kesaktiannya. Masyarakat sekitar meneruskan jejak beliau dengan mengambil air bekas sumur Ki Demang untuk cuci muka dan mandi pada tanggal tersebut. Peralatan dan sesaji yang diperlukan adalah sebagai berikut: Dhaharan asrep (makanan tawar), sambal goreng asrep, jangan bening asrep, tempe goreng, klepon, apem, sambal kering, tape, pisang, kue satu, roti tawar, unjukan teh dan kopi, sekar setaman, sekar Kebuli, ramping, ager-ager, sekul pethak (nasi putih), dan perlengkapan makan: piring, sendok, wijikan, kursi-bantal, dan lampu teplok. Peralatan dan sesaji salawatan terdiri dari: Tumpeng megana, Tumpeng gurih, Tumpeng sumurubing damar, Tumpeng sega ungguh, Pisang raja bikakan salawatan, Tukon pasar, Sekul gurih, Ingkung ayam, Srabi, Klepon, Clorot, Bulus angrem, Tujuh macam jenang, Ketupat, Sekar setaman, Sekar loloh, Dawet, dan Arang-arang kamban. Tiga hari sebelum puncak acara Suran Dusun Modinan, di rumah peninggalan Ki Demang Cakradikrama telah mulai dilakukan persiapan. Kegiatan yang dilakukan oleh kerabat keturunan Ki Demang Cakradikrama pada tahap persiapan ini mencakup: - Membersihkan bangunan-bangunan peninggalan Ki Demang seperti sumur, kamar mandi, dan rumah Ki Demang. Selain itu juga membersihkan makam Ki Demang dan Nyi Demang yang terletak di Dusun Guyangan, membersihkan cungkup (rumah-rumahan) makam pusaka peninggalan Ki demang yang ada di sisi Barat sumur. - Memperbaiki bangunan-bangunan peninggalan Ki Demang yang rusak, seperti tembok sumur, tembok kamar mandi, dan rumah Ki Demang. Selain itu juga cungkup makam Ki dan Nyi Demang serta cungkup makam pusaka Ki Demang. Pada pagi hari sebelum puncak acara yaitu ada tanggal 7 Sura, di rumah bekas kediaman Ki Demang telah dimulai dengan persiapan pembuatan sesaji, yaitu sesaji Suran Kademangan dan sesaji salawatan. Disamping itu, juga dibuat kendhi ijo yang berupa nasi putih yang dilengkapi dengan lauk pauk dari kelan (sayur) tholo dan gudhangan bumbu tumbuk kemudian dibungkus dengan daun pisang. Bungkusan ini bentuknya mirip dengan kendhi yang berwama hijau, maka disebut "kendhi ijo". Kendhi ijo ini pada siang harinya akan dibagikan kepada warga masyarakat di sekitar tempat upacara. Pada sore hari kamar mandi yang akan dipakai untuk upacara siraman atau padusan diisi dengan air dan sumur peninggalan Ki Demang Cakradikrama. Setelah bak mandi penuh, maka air dalam bak mandi tersebut ditaburi atau diberi bunga mawar. Setelah selesai kemudian kamar mandi ditutup pintunya dan akan dibuka saat pelaksanaan siraman atau padusan pada saat puncak upacara. Pada siang hari tanggal 7 Sura sekitar pukul 12.00 WIB dilaksanakan pembagian kendhi ijo kepada warga masyarakat di sekitar tempat upacara. Pembagian kendhi ijo ini dimaksudkan sebagai bentuk refleksi diri dan kebiasaan yang pemah dilakukan oleh Ki Demang pada semasa hidupnya. yaitu selalu memberi hidangan makan kepada orang yang datang ke rumahnya. Kebiasaan ini oleh anak cucunya masih dilaksanakan hingga sekarang pada Upacara Suran. Pada sore harinya dilaksanakan ziarah (nyekar) ke cungkup peninggalan Ki Demang (tempat penguburan pusaka milik Ki Demang). Kegiatan nyekar ke cungkup ini diawali dengan doa dan membakar kemenyan yang dilakukan oleh salah seorang kerabat dan trah Ki Demang Cakradikrama, kemudian dilanjutkan dengan ziarah dan nyekar di makam Ki Demang dan Nyi Demang yang terletak di makam Dusun Guyangan. Sekitar pukul 21.00 WIB, dimulai upacara Suran Dusun Modinan. Upacara terdiri dari pembacaan salawatan sampai menjelang pagi. Pada sekitar tengah malam salawatan mencapai saat sakral (srokal), dilaksanakan mandi di tempat yang dahulu pernah dipakai Ki Demang. Upacara mandi ini dilakukan oleh seorang keturunan tertua dari Ki Demang, kemudian diikuti oleh seluruh anggota trah dan dilanjutkan dengan warga masyarakat umum yang ingin ngalap berkah dengan ikut mandi.

Galeri Foto

Kec gamping 1

 

Kec gamping 2

 

sebagai Suran Mbah Demang dalam cabang Upacara Adat