Yogyakarta

 

Cabang dari pohon budaya Yogyakarta

 

Daerah Istimewa Yogyakarta adalah daerah otonomi (tahun 1950) yang memiliki sistem pemerintahan baru dan merupakan bentuk perubahan dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Perubahan ini terjadi setelah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan kesadaran politis dan berkebudayaan ingin menyatu menjadi bagian dari negara Indonesia. Hal ini disebabkan karena adanya perasaan senasib seperjuangan untuk membebaskan diri dari penjajahan di Nusantara.

Kebudayaan yang ada di dalam Daerah Istimewa Yogyakarta tidak bisa lepas dari sejarah masa lalu. Yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan lanjutan dari Kasultanan Ngayogyakarta. Oleh karena itu kebudayaan dari peradaban Mataram Kuno (Hindu-Budha), Mataram Islam, dan peradaban sisa-sisa kolonialisme masih memberikan pengaruh yang besar. Tidak sekedar pengaruh bahkan, akan tetapi kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta dibentuk dan berakar dari peradaban-peradaban tersebut.

Kehidupan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta masih menjalani akar kebudayaannya. Hal tersebut bisa kita lihat dari kehidupan sosialnya, kesenian, upacara adat, dan pemikiran yang berjalan di masyarakat. Ini menggambarkan bahwa batang yang kokoh adalah batang yang tumbuh dari pohon berakar kokoh. Jika akar-akar pohon dipatahkan maka batang pun akan rubuh dan pohon akan gugur.

TAHUN BERDIRI                            : 1950 s/d Sekarang

SISTEM PEMERINTAHAN             : Demokrasi

GENEOLOGI MASYARAKAT         :

Ekonomi : Ekonomi Industri, Pariwisata, ESDM, Pertaniandan Kehutanan, Perdagangan dan UKM.

GeoPolKondisi sosial budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta antara lain meliputi Kependudukan; Tenaga Kerja, dan Transmigrasi; Kesejahteraan Sosial; Kesehatan; Pendidikan; Kebudayaan; dan Keagamaan.

GEO CULTURE                              :

Kebudayaan& Kesenian 

DIY mempunyai beragam potensi budaya, baik budaya yang tangible (fisik) maupun yang intangible (non fisik). Potensi budaya yang tangible antara lain kawasan cagar budaya, dan benda cagar budaya. DIY memiliki tidak kurang dari 515 Bangunan Cagar Budaya yang tersebar di 13 Kawasan Cagar Budaya.

Sedangkan potensi budaya yang intangible seperti gagasan, sistem nilai atau norma, karya seni, sistem sosial atau perilaku sosial yang ada dalam masyarakat. Keberadaan aset-aset budaya peninggalan peradaban tinggi masa lampau tersebut, dengan Kraton sebagai institusi warisan adiluhung yang masih terlestari keberadaannya, merupakan embrio, dan memberi spirit bagi tumbuhnya dinamika masyarakat dalam berkehidupan berkebudayaan terutama dalam berkesenian dan berdialog antar adat & tradisi.

Pelajaran tentang kehidupan dan kebudayaan tersebut disampaikan melalui cerita-cerita wayang yang pada akhirnya menumbuhkan kesenian pertunjukkan wayang kulit maupun wayang jenis lain.

Selain itu wejangan dan nasihat tentang pandangan hidup dan sistem kepercayaan juga ditransmisikan dalam bentuk tembang (lagu) maupun bentuk sastra lainnya.

Pendidikan

Pendidikan meliputi pendidikan agama dan sastra. Pendidikan agama diselenggarakan oleh Kawedanan Pengulon. Pendidikan ini berlokasi di kompleks masjid raya kerajaan. Pendidikan sastra diselenggarakan oleh Tepas Kapunjanggan. Kedua pendidikan ini satu sistem dan tidak terpisah. Para siswa diberi pelajaran agama,  bahasa Jawa , budaya, dan literatur (serat dan babad).

Pendidikan barat baru diperkenalkan oleh pemerintah penjajahan pada awal abad 20. Pada pemerintahan Sultan  HB VIII  sistem pedidikan dibuka. Mula-mula sekolah dasar dibuka di Tamanan dan kemudian dipindahkan di Keputran. Sekolah ini masih ada hingga sekarang dalam bentuk SD N Keputran. Pendidikan lanjut memanfaatkan pendidikan yang dibuka oleh pemerintah penjajahan seperti HISMulo, dan AMS B. Pada  1946 , kesultanan ikut serta dalam mendirikan Balai Perguruan Kebangsaan Gajah Mada yang pada 1949  dijadikan  UGM .

Peristiwa Penting

  • 1950 ,  4 Maret , Daerah Kesultanan Yogyakarta dan Daerah Paku Alaman ditetapkan menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta, sebuah daerah berotonomi khusus setingkat provinsi, dan mulai berlaku pada  15 Agustus .
  • 1965 ,  1 September , Daerah Istimewa Yogyakarta dijadikan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
  • 1988 , Sultan HB IX wafat.

Daftar Pustaka :

  • Kota Yogyakarta Tempo Doeloe. Sejarah Sosial 1880-1930 oleh Abdurracman Surjomihardjo 
  • Sejarah Keraton Yogyakarta oleh Ki Sabdacarakatama